Permintaan Apartemen Tahun Ini Bakal Naik

Kompas.com - 11/01/2017, 15:34 WIB
Suasana pembangunan gedung bertingkat tingkat tinggi atau high rise di Jakarta, Kamis, (10/11/2016). Pembangunan ini meliputi perkantoran, apartemen, dan hotel. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana pembangunan gedung bertingkat tingkat tinggi atau high rise di Jakarta, Kamis, (10/11/2016). Pembangunan ini meliputi perkantoran, apartemen, dan hotel.
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Permintaan terhadap hunian vertikal atau apartemen diperkirakan bakal mengalami kenaikan tahun ini. Hal itu dipengaruhi berbagai macam relaksasi kebijakan dari pemerintah yang diberlakukan sejak 2016 seiring membaiknya kondisi makro ekonomi pada 2017.

Namun, secara keseluruhan pasar apartemen di Jakarta belum menunjukkan pemulihan signifikan, menyusul dikeluarkannya beberapa kebijakan untuk memberikan pemulihan terhadap pasar tersebut oleh pemerintah.

"Tentu kami berharap semester pertama ini ada kenaikan penjualan yang baik, karena indikasinya pada akhir tahun ini beberapa apartemen yang dijual ada penambahan pembelian unit dari 5 jadi 10-15 unit. Jadi, enam bulan ini akan membaik dari periode sebelumnya," ujar Associate Director Residential Sales & Leasing Colliers International Indonesia Aleviery Akbar, kepada Kompas.com, Kamis (5/1/2017).

Akbar mengakui, kondisi makro ekonomi yang lebih lambat dari perkiraan dan upaya pemerintah untuk mengejar pengumpulan pajak masih terhambat sentimen para pembeli. Kebanyakan investor masih melanjutkan sikap hati-hatinya dalam melakukan pembelian properti terutama apartemen.

Di sisi lain, banyak pengembang yang melakukan revisi mengurangi pemasaran dan penjualannya lantaran lemahnya permintaan selama 2016. Kondisi itu kemudian membuat performa penjualan apartemen tetap datar sepanjang 2016.

Lebih jauh lagi, selama kuartal-IV 2016, rasio pembelian apartemen pasca penawaran oleh pengembang (take-up rates) menurun 0,2 persen dari kuartal sebelumnya menjadi 86,8 persen.

"Namun, di tengah-tengah penurunan yang terjadi hingga akhir 2016, permintaan apartemen masih ada di level positif sebagai bukti kenaikan take-up rates secara tahunan," imbuh Akbar.

Adapun kenaikan take-up rates kumulatif tahun ini sebagian terjadi karena sedikitnya jumlah proyek yang diluncurkan atau 50 persen lebih sedikit dibanding 2015 sehingga membantu para pengembang untuk fokus menjual stok apartemen yang sudah ada.

Lebih lanjut, menurut Akbar, di tengah perlambatan pasar saat ini banyak pengembang menawarkan diskon besar dan skema pembayaran fleksibel terhadap para pembeli potensial.

"Dengan melihat contoh tersebut, kami pikir ini masih terlalu dini untuk menganggapnya sebagai sebuah bukti pemulihan pasar melainkan hanya sebuah solusi jangka pendek," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X