Kompas.com - 26/12/2016, 13:47 WIB
Rumah adat Gendang orang Manggarai yang disebut Mbaru Niang di Kampung Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, dengan arsitektur yang unik, Selasa (22/3/2016). KOMPAS.COM/MARKUS MAKURRumah adat Gendang orang Manggarai yang disebut Mbaru Niang di Kampung Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, dengan arsitektur yang unik, Selasa (22/3/2016).
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan kembali rumah adat menjadi tujuan utama program Rumah Asuh yang diinisiasi Yori Antar. Sebagai arsitek dari HanAwal&Partners, dia mendapatkan dana dari para donatur.

Yori mengaku, program tersebut lebih berguna untuk masyarakat ketimbang bantuan pemerintah pusat dan daerah (pemda) yang justru sering "salah sambung".

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur, pemda setempat merasa ketinggalan dengan pembangunan rumah yang ada, akhirnya mereka bangun toilet," ujar Yori dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan lalu.

Ia menjelaskan, "salah sambung" di sini berarti ketidaksesuaian antara yang dibutuhkan masyarakat dengan bantuan yang diberikan pemerintah.

Toilet yang dibangun pemda di Wae Rebo juga tidak dibuat sedemikian rupa dan tidak sesuai dengan bangunan rumah adat, sehingga terkesan memaksakan.

Selain di NTT, Yori juga menemukan bantuan pemerintah yang "salah sambung" di Lombok.

"Begitu masuk rumah adat, saya lihat tiap rumah kok aneh ada kulkasnya," tutur Yori.

Lambat laun, ia mengetahui bahwa kulkas tersebut adalah bantuan yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yori menduga, pemerintah sudah kebingungan menghitung proyek pembangunan sehingga mencari jalan pintas untuk membelanjakan uang dalam bentuk kulkas.

"Kulkasnya nggak bisa nyala karena nggak ada listrik. Pas dibuka, malah jadi lemari pakaian. Itu salah sambung," jelas Yori.

Ia mengatakan, hal tersebut terjadi karena pola pikir pemerintah masih berbasis proyek dan top-down.

Seharusnya pemerintah berpikir apa yang paling dibutuhkan masyarakat bukan apa yang bisa diberikan oleh pemerintah, atau down-top.

Program Rumah Asuh bertujuan untuk menemukan dan membangun kembali rumah-rumah adat di pedalaman Indonesia.

Program tersebut melibatkan mahasiswa arsitektur sebagai agen di lapangan dan donatur gotong royong sebagai penyandang dana.

Tidak hanya itu, masyarakat asli juga ikut dilibatkan dalam pembangunan kembali rumah adat.

Dalam perjalanannya, program tersebut sudah berhasil merekonstruksi sejumlah rumah adat di berbagai daerah seperti NTT, Papua, Sulawesi dan Sumatera Barat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.