Masuk Pedalaman NTT, Mahasiswa Temukan Desa yang Hampir Punah

Kompas.com - 24/12/2016, 18:34 WIB
Kampung adat Wae Rebo, Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. DOK INDONESIA.TRAVELKampung adat Wae Rebo, Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah Asuh adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Yori Antar, seorang arsitek dari Han Awal & Partners Architects.

Program ini dilatarbelakangi kekhawatiran Yori akan hilangnya budaya arsitektur Nusantara.

Yori bercerita, keberhasilan program ini tidak lepas dari peran mahasiswa yang giat mencari DNA arsitektur.

Sementara jika menggunakan bahan belajar di kampus, mahasiswa justru lebih banyak menyoroti arsitektur luar negeri.

"Beberapa mahasiswa dikirim ke Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian, mereka menemukan sebuah data yang sangat berharga," ujar Yori dalam sebuah diskusi di Jakarta Design Center, Selasa (20/12/2016).

Ia menuturkan, saat di kampung tersebut, mahasiswa membawa serta teknologi yang digunakan untuk menggali arsitektur setempat.

Hasilnya, bagaimana rumah Wae Rebo dibangun kembali pun dapat terekam melalui video. Rekaman tersebut dinilai Yori sangat lengkap bahkan tidak dimiliki antropolog lain.

"Tahun 2008, kami menemukan desa yang nyaris punah. Setelah itu, kami secara rutin mengirim mahasiswa ke sana," tutur Yori.

Biasanya, dokumentasi arsitektur yang ada hanya berupa foto. Namun, dengan rekaman, budaya arsitektur dapat tergambar jelas ditambah data-data yang didapat langsung dari kepala adat.

Mahasiswa yang dikirim ini berasal dari Institut Teknologi Bandung. Ketika akan berangkat, Yori sudah berpesan bahwa mereka akan tinggal di sana selama lebih dari 2 minggu.

Namun, pada akhirnya, mereka justru meminta untuk perpanjangan waktu demi tinggal di Wae Rebo sampai satu setengah bulan.

"Saya kasih tiket sekali jalan, kalau rumah Wae Rebo sudah jadi, baru boleh pulang. Ternyata saat saya jemput, mahasiswa yang dikirim ke pedalaman malah menjadi seperti orang lokal," sebut Yori.

Ia menambahkan, pada 2008 hanya tinggal 2 rumah adat yang ada di Wae Rebo. Saat ini sudah 7 rumah yang terbangun berkat inisiasi Rumah Asuh dan menjadi destinasi wisata baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X