Meski Mahal, LRT Dianggap Terbaik untuk Kota Padat Penduduk

Kompas.com - 23/12/2016, 14:09 WIB
Kondisi terkini proyek LRT Jakarta tahap satu lintas pelayanan Cibubur-Cawang. Foto diambil di Jalan Tol Jagorawi, Jumat (23/9/2016). Hilda B Alexander/Kompas.comKondisi terkini proyek LRT Jakarta tahap satu lintas pelayanan Cibubur-Cawang. Foto diambil di Jalan Tol Jagorawi, Jumat (23/9/2016).
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah menggalakkan pembangunan transportasi, khususnya kereta api.

Kereta api dibagi menjadi dua jenis yaitu kereta non-urban dengan perjalanan jarak jauh dan urban berjarak pendek.

Untuk fungsi urban berjarak pendek khususnya di perkotaan, kereta dibutuhkan sebagai upaya mengatasi kemacetan kota.

Jenis kereta berjarak pendek yang dibangun pemerintah adalah mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT), meski biaya pembangunannya sangat besar.

"Kalau boleh saya hitung secara perbandingan, investasi jalan tol Rp 100 miliar-Rp 500 miliar per kilometer, sedangkan LRT itu Rp 600 miliar-Rp 800 miliar per kilometer," ujar Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia Soegeng Poernomo saat diskusi Transportation Outlook 2017, di Jakarta, Kamis (22/12/2016).

Dari sisi kapasitas, kata Soegeng, MRT dapat menampung 400-500 orang sekali angkut. Sementara kapasitas LRT hanya setengahnya, sehingga lebih ringan. Karena itu, ia memperkirakan harga MRT bisa dua kali lipat lebih mahal daripada LRT.

Dibandingkan jalan tol, pemerintah tidak perlu membangun stasiun atau menyediakan mobil.

Sementara untuk pembangunan LRT, perlu disediakan jalur layang atau elevated, jalur, stasiun, dan pantograf. Namun, meski mahal, tambah Soegeng, pembangunan LRT sangat populer di kota-kota dunia.

"Karena memang (LRT) itu pilihan terbaik untuk angkutan perkotaan. LRT itu angkutan masal di kota-kota yang ukurannya 1 juta penduduk," sebut Soegeng.

Ia mencontohkan, kalau di Indonesia, 1 juta penduduk di satu perkotaan termasuk jumlah kecil. Pasalnya, banyak kota-kota yang penduduknya mencapai 5 juta.

Untuk ukuran kota di Eropa, penduduk 1 juta jiwa sudah dinilai memerlukan LRT. Sementara di Jakarta saja, yang penduduknya sudah mencapai 25 juta, belum ada transportasi serupa.

"Di Jakarta, semua penduduk merayap di daerah sama. Kalau di Eropa, kota seramai Jakarta sudah ada elevated dan under ground," jelas Soegeng.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X