Kendalikan Banjir Lahar Dingin Sinabung, Sabo Dam Dibangun

Kompas.com - 07/12/2016, 23:30 WIB
KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI Petugas memperingatkan dua warga yang hendak keluar dari zona merah erupsi Sinabung di portal simpang Sibintun, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Rabu (2/11/2016). Meskipun status Gunung Sinabung Awas dan potensi erupsi dan luncuran awan panas tinggi, peringatan untuk tidak beraktivitas di zona merah Sinabung masih terus dilanggar warga.

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara yang kerap meletus menimbulkan peningkatan banjir lahar dingin di hulu. Akibatnya, daerah hilir sering menjadi tempat limpahan banjir lahar dingin.

Maka dari itu, pemerintah kemudian mengupayakan pembangunan Sabo Dam sebagai solusi pengendalian banjir lahar dingin di Sinabung agar tidak merugikan masyarakat di kaki gunung.

Menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Imam Santoso, Sabo Dam tersebut dipastikan mampu menghalangi banjir lahar dingin yang potensial merusak segala infrastruktur yang dihantamnya.

"Ya penting kan kami bangun Sabo Dam seperti di Merapi agar lahar yang turun tidak mengalir ke mana-mana, Kami coba melokalisasi lahar yang turun," jelas dia saat ditemui di kantornya, Rabu (7/12/2016).

Pembangunan Sabo Dam mulai bisa dikerjakan setelah kontrak antara penyedia jasa konstruksi dan pemerintah ditandatangani pada Rabu (7/12/2016).

Penandatanganan kontrak meliputi pengerjaan paket satu dan dua. Estimasi anggaran untuk pengerjaan paket satu Sabo Dam Gunung Sinabung ini adalah sebesar Rp 170,9 miliar, sedangkan paket duanya ditaksir menelan biaya sebesar Rp 111,2 miliar.

Pembangunan Sabo Dam ini diprediksi bakal rampung dalam kurun waktu dua atau tiga tahun mendatang.

Proses pembangunannya diakui Imam akan dilakukan dari bawah ke atas mengingat kondisi Gunung Sinabung yang belum sepenuhnya aman.

"Proyek di Sinabung itu 2-3 tahun. Efektifitasnya nanti kaya di Merapi, Ini di bawah dulu (pekerjaannya) karena yang di atas masih banyak gejolak," pungkas dia.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X