Negara Berkembang dan Miskin 'Sarangnya' Polusi Udara

Kompas.com - 31/10/2016, 23:59 WIB
Kualitas udara di kota Paris yang cukup tercemar terlihat dalam foto ini yang diambil pada 17 Maret 2014. ReutersKualitas udara di kota Paris yang cukup tercemar terlihat dalam foto ini yang diambil pada 17 Maret 2014.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - UNICEF mengimbau seluruh pemimpin dunia agar mengurangi keberadaan polusi udara karena menjadi penyebab kematian banyak anak tiap tahunnya ketimbang malaria dan HIV/AIDS.

Sekitar 600.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal tiap tahunnya akibat penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara luar ruangan atau di dalam ruangan, terutama di negara miskin.

UNICEF kemudian menggunakan satelit guna melihat wilayah mana yang paling terpapar polusi udara.

Sekitar dua miliar anak tinggal di tempat dengan polusi udara luar ruangan yang kebanyakan merupakan di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah.

"Itu termasuk 620 juta di Asia Selatan, 520 juta di Afrika, dan 450 juta di Asia Timur Pasifik," tulis UNICEF dalam laporan bertajuk "Clear the Air for Children."

Polusi udara luar ruangan banyak terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah yang area perkotaannya dicemari oleh emisi kendaraan, banyaknya penggunaan bahan bakar fosil, debu, dan pembakaran sampah.

UNICEF Peta satelit wilayah yang terpapar polusi udara.

Negara-negara maju telah membuat langkah besar untuk mengurangi polusi udara luar ruangan dan melindungi anak-anak dari polusi dalam ruangan.

"Sementara negara-negara berkembang baik dengan pendapatan rendah maupun menengah harus bisa melakukan hal yang sama," kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake.

Peta satelit yang digunakan UNICEF hampir sama dengan milik WHO dan menunjukkan bahwa sekitar 92 persen populasi dunia tinggal di tempat dengan kualitas udara luar ruangan buruk dan tak sesuai panduan WHO.

Namun, peta satelit itu tidak memperhitungkan bahaya polusi di dalam ruangan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Di sana, di area pedesaannya orang masih menggunakan bahan bakar padat seperti batubara dan kayu untuk memasak serta pemanas.

Lebih dari satu miliar anak-anak tinggal di rumah yang menggunakan bahan bakar padat.

Untuk contoh misalnya, 81 persen rumah tangga desa di India menggunakan bahan bakar tersebut lantaran dianggap murah dan mudah didapat.

Penelitian dan laporan UNICEF ini kemudian menunjukkan korelasi jelas antara pendapatan nasional dengan penggunaan bahan bakar padat di dalam rumah.

Thailand dengan pendapatan per kapita 5.816 dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 76 juta menggunakan biomassa untuk memenuhi kebutuhana 23 persen kebutuhan rumah tangga.

Sementara itu Repbulik Tanzania Bersatu dengan pendapatan per kapita 864 dollar AS (Rp 11 juta) menggunakan biomassa untuk memenuhi 95 persen kebutuhan rumah tangganya.

UNICEF sendiri telah bekerja untuk mendistribusikan kompor listrik ke Bangladesh, Zimbabwe, dan negara-negara miskin lainnya.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber CNN
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X