Kompas.com - 10/10/2016, 19:00 WIB
Suasana proyek pembangunan reklamasi Teluk Jakarta di kawasan Pantai Utara, Jakarta Utara, Rabu (11/5/2016). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menghentikan sementara proyek reklamasi Pulau C, D, dan G, lantaran dinilai melanggar izin dan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana proyek pembangunan reklamasi Teluk Jakarta di kawasan Pantai Utara, Jakarta Utara, Rabu (11/5/2016). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menghentikan sementara proyek reklamasi Pulau C, D, dan G, lantaran dinilai melanggar izin dan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menegaskan, National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu kota Negara bukan bertujuan untuk mengatasi banjir DKI Jakarta.

"NCICD ini bukan untuk banjir, tapi untuk lingkungan, untuk rejuvenation sesuai dengan studi kami bahwa 15 tahun lagi tidak akan ada sungai lagi dan akibat gravitasi langsung turun ke laut," tegasnya saat jumpa pers di Kantor Kementerian PUPR Jakarta, Jumat (7/10/2016).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, lanjut Basuki, NCICD ini juga akan berfungsi untuk menahan air bersih atau reservoir sehingga nantinya penduduk sekitar tak perlu mengambil air tanah lagi.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Imam Santoso menyebutkan, NCICD ini merupakan proyek kolaborasi antara pemerintah pusat atau Kementerian PUPR dengan Pemprov DKI Jakarta dan swasta.

"Yang kami kerjakan ada di dua lokasi, yakni di Muara Baru sepanjang 2,3 kilometer, baru 7,5 persen progresnya dan kemudian di Kalibaru 2,2 kilometer, progresnya delapan persen," imbuh dia.

Dari total panjang 62,8 kilometer, Kementerian PUPR disebut Imam mendapat bagian delapan kilometer dengan bagian yang sudah terkontrak adalah sepanjang 4,5 kilometer.

"Jatah yang delapan kilometer ini kami harapkan bisa selesai pada 2018 nanti sehingga tujuan untuk melindungi masyarakat di daratan dari gelombang air laut dan turunnya muka air tanah bisa cepat terealisasi," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.