Gairah Merah Putih Kota Kita - Kompas.com

Gairah Merah Putih Kota Kita

Kompas.com - 17/08/2016, 23:47 WIB
Warta Kota/Alex Suban Anggota Paskibraka Tim Arjuna bersiap untuk mengibarkan bendera dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016).

Dalam beberapa hari setiap menjelang 17 Agustus, perasaan menggelegak dalam dada ini selalu menyertai langkah saya. Hal ini saya rasakan ketika jogging pagi keliling kampung sekitar rumah, ada percik-percik optimisme dan selalu membawa pikiran kepada pasal kedigdayaan. Pasal-pasal kebangsaan dan jati diri.

Apakah ini yang namanya patriotisme?

Sudut-sudut kampung kota yang biasanya kusam masai dipenuhi anak-anak tanggung nongkrong,  tampak sejenak berbenah.  Polesan kertas krep merah putih berjalur-jalur seperti peragawati bergincu, cenderung menor dan tebal, namun tetap memberi rona gairah.

Para rukun tetangga tiba-tiba rajin berkumpul dalam empat minggu terakhir. Perbincangan warga dengan isu beragam sangat seru disimak. Mulai rumor terkini, urusan tetangga, hingga urusan negara.

Namun, itu semua mengerucut pada pasal-pasal mengenai bagaimana kampung kotanya bisa bersolek menghadapi 17 Agustus.

Anak-anak pun tak kurang heboh, mulai bersiap diri untuk mengikuti beragam acara perlombaan ketangkasan.  Sebuah acara yang ditunggu setiap tahun.

Kondisi berbeda dengan koridor-koridor jalan utama kota dan perumahan para elite. Merah putih hadir rapi di tiang-tiang bendera rumah,  tak lebih dari 2x1 meter ukuran kainnya. Melambai-lambai malas di terpa angin sepoi-sepoi.

Tidak heboh, tidak bergelora seperti di kampung kota. Bukan si empunya rumah, melainkan para pembantu atau satpam, yang rajin memasang dan menurunkan bendera tiap pagi dan sore di rumah para elite itu.

Apakah ini juga patriotisme?

Liputan TV mengulas semua gairah dari Banda Aceh, Ambon, Cirebon, Manado, Yogyakarta hingga Banjarmasin.  Ruang-ruang kota bersolek,  gegap gempita dengan semburan merah putih. Merah putih adalah warna Agustus, tema ruang dan nasionalismenya adalah semangatnya.

Fakta itu mendorong saya untuk berpikir, harusnya penilaian dan penjurian Adipura dilakukan bulan Agustus. Maka persaingan akan ketat, karena kota dan kampung semua indah dan tampil menggairahkan.

Pada Agustus ini pula warga keluar dari eksklusifitas zona nyaman rumah tinggalnya, untuk berinteraksi dengan warga lainnya. Gotong royong menjadi tema utama.  Rakyat bersuka cita untuk mempercantik lingkungan,  membuatnya menjadi layak huni, bergairah, dan menyegarkan.

KOMPAS.com/Dani J Lomba peragaan busana ibu dan anak semarakkan perayaan hari kemerdekaan RI 17 Agustus di Argosari, kampung eks tahanan politik.
Tanpa ragu warga menyumbang tenaga, sedikit dana, dan kepanitiaan, untuk bersuka ria berbuat demi tetangga. Anak-anak, remaja, tua-muda, cerah ceria bergembira.

Indahnya gelora kebersamaan. Dan sudut-sudut kampung kota pun bergelora nyaman. Namun, kenapa kantong-kantong kota kalangan atas justru sepi.

Lihat saja di kawasan Darmawangsa, dan Senopati yang pagi tadi sangat lengang. Apakah karena suasana liburan, sehingga warganya menikmati satu hari istirahat setelah kerja keras? Jelas, libur setelah kerja keras bagi mereka adalah kemewahan.

Andai suasana 17 Agustus ini sepanjang tahun,  apakah kita mendekati apa yang kita idamkan?

Kota menjadi inklusif,  tumbuh menjadi ruang hidup sejatinya. Maka tidak perlu ada lagi Adipura dan usaha-usaha sintetis para birokrat kota untuk memenangkan penghargaan dengan segala cara.

Tidak perlu pemerintah tersesat dan memaksakan istilah "kota publik" dalam politiknya, karena sejatinya kota itu inklusif dan bergairah.

Ayo buat kota kita lebih bergelora, inklusif, dan layak tinggal!


EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X