Kawasan TOD Dukuh Atas Akan Dilengkapi "Skywalk"

Kompas.com - 28/07/2016, 20:30 WIB
Penumpang yang belum memiliki tiket mengantre untuk mendapatkan tiket menuju Bogor. Akibat kereta anjlok, hanya satu rangkaian kereta relasi Tanah Abang-Bogor yang dapat melintas SitaPenumpang yang belum memiliki tiket mengantre untuk mendapatkan tiket menuju Bogor. Akibat kereta anjlok, hanya satu rangkaian kereta relasi Tanah Abang-Bogor yang dapat melintas
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu stasiun mass rapid transit (MRT) Jakarta, dibangun di kawasan Dukuh Atas, jakarta Pusat.
 
Sebagai bagian dari pinjaman dana untuk pembangunan MRT Jakarta, PT MRT Jakarta juga berencana untuk mengembangkan Dukuh Atas menjadi kawasan berbasis transit oriented development (TOD).
 
‎"Ide kami menghubungkan 4 kuadran, tapi ini ide saja tergantung konsultan kami seperti apa. Kami akan membuat skywalk untuk menghubungkan keempatnya," ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami, di kantornya, Rabu (27/7/2016).
 
Empat kuadran ini adalah transportasi massal yang bertemu di Dukuh Atas. Saat ini, di Dukuh Atas sudah ada Stasiun KRL Sudirman.
 
Nantinya,  akan ada stasiun bandara yang saat ini sedang dikerjakan Kementerian Perhubungan dengan PT Kereta Api Indonesia (persero).
 
Sementara stasiun MRT akan ada di bawah taman. Meski harus dibongkar, PT MRT Jakarta menjanjikan taman akan dikembalikan jauh lebih bagus dari yang ada sekarang.
 
Sedangkan kuadran keempat adalah bus rapid transit atau BRT koridor 4 dan 6. Namun, karena dananya terbatas, PT MRT Jakarta lebih fokus pada pembangunan stasiun MRT.‎
 
"Saat ini kami berproses membuat rancangan induk (masterplan)-nya, menunjuk konsultan, bagaimana membuat Dukuh Atas‎ menjadi lebih bagus," jelas Dono.
 
Sebenarnya, kata dia, TOD ini bukan kewajiban PT MRT Jakarta. Namun, jika pihaknya hanya membangun sistem saja dan tidak memikirkan kawasannya, ia merasa MRT belum benar-benar sukses.
 
Pasalnya, transportasi massal sangat mendesak dikembangkan. Di Stasiun Sudirman saja saat ini ada 130.000-150.000 orang per hari berjalan keluar-masuk.
 
Dengan demikian, menurut Dono, kemacetan bukan hanya disebabkan kendaraan bermotor saja. Volume lalu lintas orang yang meningkat juga menyebabkan kemacetan.
 
"Sekarang saja yang naik dan turun itu sudah melimpah ke jalan. Ini sedang ditata ulang,"‎ tandas Dono.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X