Masjid di Kementerian ATR/BPN Tak Berkubah

Kompas.com - 05/06/2016, 11:45 WIB
Masjid Nuurur Rahmaan di kompleks Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di Jakarta. Masjid Nuurur Rahmaan di kompleks Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di Jakarta.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesan pertama saat melihat Masjid Nuurur Rahmaan di kompleks Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) adalah warnanya yang cerah tapi juga lembut.

Masjid ini baru diresmikan Menteri ATR/BPN Ferry Mursyidan Baldan pada Jumat (3/6/2016), atau Jumat terakhir sebelum memasuki bulan puasa.

Sebelum pembukaan, Ferry sempat berbisik kepada Kompas.com, tentang penampilan masjid tersebut.

"Masjidnya warna-warni, ya?" ujar Ferry sambil melangkah menuju pintu utama masjid untuk melakukan prosesi peresmian.

Memang betul, di bagian eksteriornya, ada sejumlah warna yang diterapkan mulai dari hijau, kuning gading, dan merah bata.

Sebagian besar masjid diselimuti perpaduan kuning gading dan merah bata, sementara warna hijau menandai tempat mimbar di dalamnya atau sebagai arah kiblat.

Menteri Agaria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan meresmikan Masjid Nuurur Rahmaan di kompleks perkantoran ATR/BPN, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Namun, tidak sampai di sana hal menariknya. Bangunan seluas 500 meter persegi ini memiliki fitur unik yaitu passive design sehingga ramah lingkungan.

Kolom pembentuk mimbar di bagian eksteriornya, terdiri dari 10 kolom yang masing-masing di kiri dan kanan berjumlah lima tiang.

Menurut Ferry, hal ini menunjukkan waktu shalat wajib bagi umat muslim dalam satu hari yaitu 5 waktu, Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.

Selain memiliki arti tersebut, kolom ini dibangun berjejer dan memudahkan aliran udara masuk dan keluar masjid.

Di bawah kolom-kolom ini, terdapat kolam dengan air mengalir yang menggambarkan kehidupan muamalah, yaitu hablum minannas.

Arah air dari dalam keluar merupakan refleksi bahwa salat memiliki efek terhadap kehidupan di luar masjid dan sebagai sarana keseimbangan antara ibadah vertikal, yaitu manusia dengan Allah dan ibadah horisontal, yaitu sesama manusia, misalnya dengan bersedekah.

Sementara seluruh tembok yang melindungi masjid ini dibuat dengan lubang-lubang karena bertujuan sama, yaitu memudahkan pergantian aliran udara.

Dinding yang terbuka ini dimaksudkan untuk penghematan energi dari sisi pencahayaan dan penggunaan pendingin ruangan.

Masjid Nuurur Rahmaan, di Kementerian ATR/BPN, Jakarta.

Masjid yang mengadopsi kearifan lokal tradisional-joglo ini memiliki tinggi puncak 17 meter dari lantai, yang merefleksikan kewajiban jumlah rakaat salat bagi umat muslim.

Puncak masjid ini dibuat tinggi juga untuk memberikan kesan luas di dalamnya. Adapun tinggi menaranya adalah 27 meter yang merefleksikan bahwa salat jamaah di masjid tersebut dilipatgandakan pahalanya hingga 27 derajat.

Ferry mengatakan bahwa masjid tersebut sengaja tidak ditambahkan kubah.

"Karena kita berdekatan sekali dengan Masjid Al-Azhar kan. Di sana sudah ada kubah yang sangat melegenda. Kita tidak ingin mengurangi keindahannya," sebut Ferry.

Ia menambahkan, desain masjid ini memang sengaja dibuat supaya ramah lingkungan. Selain dari aliran udara dan cahaya, material yang digunakan juga dipikirkan.

Contohnya, Ferry menunjukkan lantai masjid yang sengaja tidak dipasangi keramik atau marmer. Menurut dia, saat beribadah di dalam masjid, jamaah pasti akan menggunakan alas salat atau sajadah.

Masjid Nuurur Rahmaan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional.

Untuk itu, lantainya hanya diberi lapisan yang menahan air supaya tidak merembes. Sementara di atasnya, sudah ditutup dengan karpet sajadah yang sangat lembut dan berwarna merah bata.

Masih di dalam interior, terdapat mihrab yang dihiasi kaligrafi syahadat bertuliskan "Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrasulullah".

Sebelumnya, sudah ada masjid yang berdiri di tempat tersebut. Namun, Ferry memutuskan untuk memperbaruinya sekaligus menambah daya tampung masjid.

Awalnya, ia menargetkan pembangunan masjid tersebut selesai dalam 9 bulan, namun pada perjalannya justru selesai lebih awal yakni 7 bulan 17 hari.

Kapasitas masjid sebanyak 1.100 jamaah baik di dalam maupun plasa. Plasa ini juga digunakan sebagai penghubung antara area kantor dengan tempat ibadah. Dibuat dari grass block, plasa ini memungkinkan air meresap ke dalam tanah.

Selain tempat shalat, masjid ini juga dilengkapi kantin, ruang usaha masjid, dan kantor Dewan Keamanan Masjid (DKM). Secara khusus, kantin dan ruang usaha masjid ini diinisiasi oleh Ferry sendiri.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X