Dari Peta Gempa, Penataan Ruang di Luar Jawa Lebih Mudah

Kompas.com - 31/05/2016, 12:02 WIB
Para karyawan keluar gedung kantor setelah diguncang gempa di Medan, Sumatera Utara, 2 Juli 2013. Gempa berkekuatan 6.2 SR di Aceh, menghancurkan rumah dan mengakibatkan tanah longsor. Tujuh orang tewas dan puluhan terluka. AFP PHOTO / ATARPara karyawan keluar gedung kantor setelah diguncang gempa di Medan, Sumatera Utara, 2 Juli 2013. Gempa berkekuatan 6.2 SR di Aceh, menghancurkan rumah dan mengakibatkan tanah longsor. Tujuh orang tewas dan puluhan terluka.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembaruan peta gempa sangat penting mengingat pada peta 2010 ada sumber-sumber gempa yang belum terlacak dan baru ditemukan sekarang.

Tidak hanya di Pulau Jawa, penggalian sumber-sumber gempa baru juga dilakukan di luar Jawa, misalnya di Sulawesi dan Papua.

"Kan kalau bangun kota ada tata ruangnya. Kita berikan peta yang mungkin berpotensi mengalami kebencanaan baru," ujar Kepala Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Arie S Moerwanto kepada Kompas.com, Senin (30/5/2016).

Ia mengatakan, peta ini memudahkan pembuatan tata ruang. Di luar Jawa, penataan tata ruang akan lebih mudah dibandingkan di Jawa karena pembangunannya belum begitu masif.

Arie mencontohkan, pemerintah daerah masih bisa mencari area yang lebih aman dari gempa untuk industri.

Untuk daerah-daerah yang telah terbukti rawan, pemerintah daerah juga masih bisa mengalihkan pembangunan infrastruktur atau bangunan tinggi.

Berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa, sebagian besar sudah dipenuhi dengan infrastruktur dan bangunan. Penduduknya juga lebih padat.

Dengan demikian, saat ada sumber gempa baru, pemerintah harus segera memikirkan alternatif supaya risiko bencana tidak menimbulkan banyak korban atau destruktif.

Salah satu sesar baru yang sebelumnya tidak terindikasi di Pulau Jawa adalah mulai dari Nusa Tenggara Barat, Surabaya, Semarang, dan Jawa Barat.

Sesar Kendeng ini, diprediksi berpotensi menimbulkan gempa dengan skala 6,5-7,5 SR. Sebagai perbandingan, pada 2010, Yogyakarta diguncang gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang meluluhlantakkan bangunan dan menewaskan ribuan jiwa.

 

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X