Dekat Pintu Tol JORR, Apartemen Ini Dibanderol Rp 300 Jutaan

Kompas.com - 23/03/2016, 12:00 WIB
Ilustrasi thinkstockIlustrasi
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Akses dan keterjangkauan transportasi dalam konsep pengembangan Transit Oriented Development (TOD) menjadi perhatian utama dalam mengembangkan properti, khususnya apartemen.

Meskipun jarak tempuh jauh atau berada di luar radius toleransi aktivitas pusat bisnis dan pusat kota, namun jika mudah diakses dan didukung jaringan transportasi memadai pasti akan diburu calon pembeli.

Hal itu kemudian yang memotivasi KSO PT Bakrie Pangripta Loka dan Perum Perumnas mengembangkan kawasan terpadu Sentra timur Residences seluas 8 hektar untuk tahap pertama di Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Direktur Proyek PT Bakrie Pangripta Loka, Windoko, mengakui kedekatan lokasi dengan Pintu Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Ramp Sentra Timur, Commuter Line Stasiun Cakung, serta jaringan Trans-Jakarta dengan titik akhir di Terminal Modern Terpadu Pulo Gebang, menjadi magnit yang sangat kuat.

"Dari enam menara apartemen yang sudah dibangun dan dipasarkan sejumlah 2.357 unit, hanya tersisa 50 unit. Ini membuktikan bahwa premis akses dan keeterjangkauan transportasi adalah hal utama," jelas Windoko kepada Kompas.com, Selasa (22/3/2016). 

Dia melanjutkan, menariknya dari ribuan konsumen yang membeli apartemen ini komposisi terbesar adalah pegawai negeri sipil dan profesional muda yang berkantor di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Bekasi.

"Mereka ulang alik menuju tempat kerja hanya sekitar 30 menit-45 menit. Efisien dalam waktu dan ongkos transportasi," tambah Windoko.

Selain akses dan keterjangkauan jaringan transportasi, faktor lain yang meenjadi pertimbangan konsumen dalam membeli apartemen adalah harga. 

Harga terjangkau, untuk tidak dikatakan murah, dengan potensi peningkatan nilai investasi menjadi daya tarik yang tak kalah kuat. 

Windoko berkisah, sejak dikembangkan pada 2008 silam, Sentra Timur Residences yang dipatok hanya Rp 90 jutaan laku diserbu pembeli. Puncaknya pada tahun 2013 saat ratusan unit terserap habis. 

Kendati catatan penjualan sempat terjun bebas 50 persen pada semester kedua 2014, namun bangkit kembali pada semester kedua. Hingga akhir tahun lalu penjualan masih bisa tumbuh 20-30 persen dan menyisakan 50 unit saja.

Dengan kinerja penjualan demikian, KSO yang berbagi kepemilikan 51 persen (Bakrie) berbanding 49 persen (Perum Perumnas) ini pun melansir menara baru bertajuk Shappire sebanyak 607 unit.

Harga per unit mulai dari Rp 300 juta untuk varian 25 meter persegi atau Rp 12 juta per meter persegi. Menurut Windoko, patokan harga ini sangat cocok untuk profesional dan keluarga muda yang belum memiliki rumah.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X