Kompas.com - 07/03/2016, 13:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Penjara akan menjadi tempat bagi orang asing yang kedapatan membeli properti secara ilegal di Australia. Selain di penjara, menurut hukum baru Australia, mereka diharuskan membayar denda penalti cukup besar.

Bagi orang asing yang melanggar aturan Badan Penanaman Modal Asing Australia (FIRB) tersebut akan terkena hukuman membayar denda sebesar 135 ribu dollar Australia atau Rp 1,3 miliar atau mendekam di penjara selama tiga tahun atau bahkan keduanya.

Sebelumnya, denda yang dikenakan untuk pembelian properti ilegal oleh orang asing adalah 90 ribu dollar Australia atau sekitar Rp 870,3 juta. Sementara itu, bagi perusahaan yang membeli properti secara ilegal, akan dihukum berupa denda hingga 675 ribu dollar Australia atau setara dengan Rp 6,5 miliar.

"Hukuman baru ini mendukung perintah divestasi dan memastikan orang-orang yang melanggar aturan tidak mengambil keuntungan dari tindakannya dan hal ini juga mengorbankan apapun termasuk capital gain yang dibuat pada divestasi properti dan denda bagi pihak ketiga yang sengaja membantu investor asing untuk melanggar aturan," jelas Bendahara Negara, Scott Morrison.

Di bawah perintah baru, orang asing yang mengajukan izin pembelian properti perumahan akan membayar biaya permohonan. Biaya permohonan untuk pembelian properti seharga 1 juta dollar Australia atau senilai Rp 9,7 miliar dan di bawahnya adalah 5.000 dollar Australia (Rp 48,4 juta).

Sedangkan untuk properti senilai di atas 1 juta dollar Australia dikenakan biaya permohonan sebesar 10 ribu dollar Australia atau setara dengan Rp 96,9 juta. Sementara untuk setiap jutaan dollar penambahan nilai properti yang dibeli akan dikenakan biaya aplikasi sebesar 10 ribu dollar Australia.

KOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTO Salah satu bagian di Wisemans Resort yang menhadap ke pinggiran Sungai Hawksbury.
Pemerintah Australia baru-baru ini menginisiasi investigasi pada lebih dari 500 properti yang dibeli oleh investor asing dan menduga bahwa itu merupakan transaksi ilegal. Hasilnya, properti senilai lebih dari 1 miliar dollar Australian atau ekuivalen Rp 9,7 triliun berada dalam pengawasan Pemerintah Australia.

Pemerintah Australia bahkan telah memperingatkan para investor asing pada awal 2015 jika tidak mampu bekerja sama dengan aturan pemerintah dan menutup semua transaksi ilegalnya hingga November 2015 akan dihadapkan pada hukuman penjara tiga tahun dan denda sangat besar.

Izin sebelum membeli properti datang dari FIRB. Orang asing tidak diperbolehkan membeli sebuah rumah baru yang sebelumnya telah ditempati.

Mereka hanya diperbolehkan membeli hunian baru kosong, namun dengan catatan jika FIRB merasa bahwa pembelian tidak akan menambah kekurangan properti yang tersedia untuk penduduk asli Australia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER PROPERTI] Kronologi Kecelakaan Maut di Tol Semarang-Solo dan Cara Cek Biaya Sertifikat Tanah

[POPULER PROPERTI] Kronologi Kecelakaan Maut di Tol Semarang-Solo dan Cara Cek Biaya Sertifikat Tanah

Berita
Inoac Sumbang 250 Kasur Busa untuk Lapas Cipinang

Inoac Sumbang 250 Kasur Busa untuk Lapas Cipinang

Berita
Sejumlah Fakta Jembatan Kaca Seruni Point di KSPN Bromo-Tengger-Semeru

Sejumlah Fakta Jembatan Kaca Seruni Point di KSPN Bromo-Tengger-Semeru

Konstruksi
Lagi 'Hunting' Rumah Murah di Manokwari? Ini Rekomendasinya (I)

Lagi "Hunting" Rumah Murah di Manokwari? Ini Rekomendasinya (I)

Perumahan
Kini, Nelayan Pulau Selat Nasik Belitung Gunakan Perahu Listrik

Kini, Nelayan Pulau Selat Nasik Belitung Gunakan Perahu Listrik

Berita
Apa Beda Rumah 'Cluster' dengan 'Townhouse'? Ini Jawabannya

Apa Beda Rumah "Cluster" dengan "Townhouse"? Ini Jawabannya

Hunian
Tol Serbaraja Resmi Beroperasi, Ciputra Rilis CitraGarden Serpong Februari 2023

Tol Serbaraja Resmi Beroperasi, Ciputra Rilis CitraGarden Serpong Februari 2023

Hunian
KEK Sei Mengkei Produktif, Layanan Pelabuhan Kuala Tanjung Akan Digenjot

KEK Sei Mengkei Produktif, Layanan Pelabuhan Kuala Tanjung Akan Digenjot

Berita
Satu Lagi, Pusat Gaya Hidup Jakarta 'One Satrio' Dibuka November 2022

Satu Lagi, Pusat Gaya Hidup Jakarta "One Satrio" Dibuka November 2022

Ritel
Pemanfaatan Lantai Kayu Berkelanjutan dalam Aplikasi Desain

Pemanfaatan Lantai Kayu Berkelanjutan dalam Aplikasi Desain

Interior
Lima Orang Tewas Akibat Kecelakaan Maut di Tol Semarang-Solo, Ini Kronologinya

Lima Orang Tewas Akibat Kecelakaan Maut di Tol Semarang-Solo, Ini Kronologinya

Berita
Summarecon Mall Bekasi Kembali Hadirkan Pasar Senggol, Ada 1.000 Menu Makanan

Summarecon Mall Bekasi Kembali Hadirkan Pasar Senggol, Ada 1.000 Menu Makanan

Ritel
Proyek Jumbo Neom, Ambisi Arab Saudi yang Diragukan Dapat Terwujud

Proyek Jumbo Neom, Ambisi Arab Saudi yang Diragukan Dapat Terwujud

Kawasan Terpadu
Beres Dipersolek, Ini Wajah Baru Masjid Raya Baiturrahman di Semarang

Beres Dipersolek, Ini Wajah Baru Masjid Raya Baiturrahman di Semarang

Berita
Target Akhir 2022, Tol Cisumdawu Bisa Dilewati Hingga Seksi 4

Target Akhir 2022, Tol Cisumdawu Bisa Dilewati Hingga Seksi 4

Berita
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.