Di Afrika, Menemukan Toilet Bersih Lebih Sulit Ketimbang Telepon Genggam

Kompas.com - 16/01/2016, 12:00 WIB
Seorang anak laki-laki sedang berdiri di toilet publik Nairobi. Noor Khamis/ReutersSeorang anak laki-laki sedang berdiri di toilet publik Nairobi.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Keluarga termiskin di dunia memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengakses telepon seluler ketimbang akses ke toilet bersih. Tentu saja, bukan hal yang patut dibanggakan.

Fakta itu tersebut didapat dari laporan yang dibuat oleh Bank Dunia. Dalam laporannya, Bank Dunia menyatakan bahwa ponsel murah dan kemudahan akses internet belum memberikan keuntungan seperti yang diperkirakan, misalnya peningkatan produktivitas, peningkatan kesempatan mendapat hidup lebih baik lagi bagi kaum miskin, dan peningkatan pemerintahan yang lebih akuntabel dan bertanggung jawab.

Meskipun jumlah pengguna internet di dunia pada tahun lalu mencapai 3,2 miliar dan 4 per 5 populasi global memiliki akses ke telepon seluler, ternyata tidak membuat dunia menuai apa yang disebut "dividen digital" atas perubahan yang ada.

Laporan Bank Dunia itu juga menyatakan bahwa kini produktivitas global cenderung melambat, pasar tenaga kerja lebih terpolarisasi, dan pangsa pemilihan umum yang bebas dan adil di seluruh dunia menurun.

Negara maju nyatanya masih mendominasi penyebaran pengetahuan dan informasi. Ada kontribusi lebih ke Wikipedia dari Hongkong, sebuah kota dengan 7 juta penduduk bila dibandingkan dari seluruh Afrika yang dulunya merupakan rumah bagi 50 kali pengguna internet tahun lalu.

"Itu adalah salah satu manfaat buruk dari teknologi digital, tapi itu hanya sedikit dalam kaitannya dengan potensi sesungguhnya," kata laporan tersebut.

Salah satu alasan pendorongnya adalah akses internet pada dasarnya belum merata. Sebanyak dua miliar orang atau 60 persen dari populasi dunia belum memiliki akses internet.

Di Afrika, pasar pertumbuhan telepon seluler paling besar di dunia dan rumah bagi inisiatif Facebook Internet.org, biaya masih menjadi masalah. Pengguna ponsel di sana menghabiskan lebih dari 13 persen pendapatan bulanannya untuk membayar tagihan telepon mereka.

Di Republik Afrika Tengah, biaya satu bulan akses internet adalah 1,5 kali pendapatan per kapita selama setahun. Hanya ada 10 persen penduduk pedesaan di Afrika dibandingkan dengan hampir seperempat penduduk perkotaan yang memiliki akses internet.

Berdasarkan jenis kelamin, hanya ada 10 persen perempuan yang menggunakan teknologi digital dibandingkan laki-laki yang jumlahnya hampir 20 persen.

Sub-Sahara Afrika diyakini mampu mengejar ketertinggalan dalam penggunaan ponsel, tetapi sangat tertinggal ketika harus mengejar akses internet.

Hal paling penting adalah teknologi digital dan akses internet jangan sampai menggantikan peran pemerintah dalam melakukan kewajibannya seperti penyediaan air bersih, perbaikan jalan, dan penyediaan listrik yang stabil.

Laporan Bank Dunia menyimpulkan bahwa manfaat penuh transformasi informasi dan komunikasi tidak akan disadari kecuali negara melanjutkan peningkatan ikim bisnisnya, menempatkan banyak orang di sektor pendidikan dan kesehatan, serta mengedepankan sistem pemerintahan yang baik.



Sumber QZ
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X