Mengurai Rumitnya Pemborosan Konsumsi Energi

Kompas.com - 14/12/2015, 09:16 WIB
Di saat yang sama, emisi karbon akan menginjak nilai mengkhawatirkan dan menyebabkan perubahan iklim. Pada 2014 saja, suhu bumi tercatat berada pada hawa tertinggi, yaitu 0,8 celsius. ThinkstockDi saat yang sama, emisi karbon akan menginjak nilai mengkhawatirkan dan menyebabkan perubahan iklim. Pada 2014 saja, suhu bumi tercatat berada pada hawa tertinggi, yaitu 0,8 celsius.
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Perkembangan ekonomi selalu diiringi dengan tingginya konsumsi energi. Hasil studi International Energy Agency (IEA) menyatakan penggunaan energi akan meningkat 50 persen pada 2050.

Di saat yang sama, emisi karbon akan menginjak nilai mengkhawatirkan dan menyebabkan perubahan iklim. Pada 2014 saja, suhu bumi tercatat berada pada hawa tertinggi, yaitu 0,8 celsius.

Lebih jauh lagi, peningkatan suhu udara juga mengancam kesehatan manusia. Kompas.com melansir, berdasarkan hasil penelitian The Lancet, sebanyak tujuh juta manusia terancam meninggal dunia setiap tahun akibat perubahan iklim.

“Perubahan Iklim membawa dampak terhadap kesehatan, harus ada yang dilakukan sekarang, untuk masa depan kemanusiaan,” kata Margaret Chan, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) pada Konferensi Perubahan Iklim ke-21 di Paris. [Kompas.com (5/12/2015)]

Permasalahan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pasalnya, sejumlah wilayah di bibir pantai rawan tenggelam jika air laut pasang.

Efisiensi dan berkelanjutan

Beberapa negara telah menggiatkan inovasi untuk mengurangi intensitas penggunaan energi. Tiongkok melakukan penghematan energi setara dengan jumlah konsumsinya. Sementara itu, Presiden Joko Widodo menargetkan pemakaian energi terbarukan di Indonesia mencapai 23 persen hingga 2025.

“Untuk memenuhi target Presiden, rasanya kita harus secara aktif melakukan efisiensi energi pada semua bagian kehidupan. Bukan hanya hemat BBM, tapi juga dari sektor lainnya, misalnya listrik karena nantinya pun akan memakai sumber daya tak terbarukan, seperti batu bara,” kata Riyanto Mashan, Country President PT Schneider Electric Indonesia.

Ke depannya penggunaan energi sebisa mungkin dilakukan dengan efisien, berkelanjutan, dan terbarukan. Usaha ini sebaiknya dimulai baik oleh individu, rumah tangga, hingga sektor industri.

Perbaikan perilaku individu dalam rumah tangga dapat dilakukan dari hal terkecil, contohnya penggunaan lampu. Mengganti lampu biasa dengan lampu LED dapat menghemat sampai 80 persen energi listrik rumah.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X