Menyiasati Borosnya Konsumsi Energi Gedung-gedung di Perkotaan

Kompas.com - 25/11/2015, 05:47 WIB
Gedung hijau dibangun tidak hanya mengutamakan persyaratan keamanan dan kenyamanan penggunanya, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi energi serta sumber daya lainnya. Keharmonisan dengan lingkungan sekitarnya pun jadi faktor utama. ThinkstockGedung hijau dibangun tidak hanya mengutamakan persyaratan keamanan dan kenyamanan penggunanya, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi energi serta sumber daya lainnya. Keharmonisan dengan lingkungan sekitarnya pun jadi faktor utama.
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Berdasarkan data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bangunan memakan 40 persen energi, 25 persen air, dan 40 persen sumber daya di dunia. Bangunan tersebut di antaranya, perkantoran, gedung komersial, dan hotel.

Saat ini, jika tidak dilakukan penghematan energi, risikonya adalah makin besarnya emisi gas rumah kaca (GRK). Hal itu akan terjadi terutama di kota-kota besar yang padat akan bangunan dan merupakan kawasan strategis.

Terkait hal itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) menerbitkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 02/PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Hijau untuk mendukung aksi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Mulai saat ini, setiap gedung yang akan dibangun wajib bersertifikasi hemat energi.

"Implementasi peraturan bangunan gedung hijau membutuhkan peran aktif berbagai pihak agar dapat diselenggarakan dengan tertib. Salah satu tonggak inovasi dalam Permen ini adalah mengedepankan peran pemerintah daerah sebagai pembina penyelenggaraan bangunan gedung hijau di daerahnya, khususnya dalam pemeriksaan bangunan gedung hijau dan sertifikasi," ujar Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Andreas Suhono, yang dilansir oleh Kompas.com, Rabu (6/5/2015).

Andreas melanjutkan, aturan tersebut melanjutkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 11 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim tahun 2012-2020. Diharapkan GRK berkurang sebanyak 26 persen hingga 2020.

Gedung hijau dibangun tidak hanya mengutamakan persyaratan keamanan dan kenyamanan penggunanya, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi energi serta sumber daya lainnya. Keharmonisan dengan lingkungan sekitarnya pun jadi faktor utama.

Gedung hemat energi

Selain implementasi bangunan hemat energi, pengelolaan gedung juga harus diperhatikan. Salah kelola justru dapat menyebabkan boros energi, bahkan sampai kerugian biaya.

"Tidak hanya pengawasan manusia, bantuan teknologi dibutuhkan untuk mencapai efisiensi dalam pemakaian dan pengelolaan energi pada bangunan. Salah satu contohnya ialah panel manajemen energi yang kami sebut Smart Panels," ujar Riyanto Mashan, Country President Schneider Electric Indonesia.

Thinkstock Jika tidak dilakukan penghematan energi, risiko emisi gas rumah kaca (GRK) akan semakin besar. Terutama di kota-kota yang padat akan bangunan dan merupakan kawasan strategis.

Smart Panels merupakan sebuah sistem yang menyediakan laporan rinci atas penggunaan energi dalam sebuah bangunan. Laporan ini mencakup catatan manajemen energi, manajemen jaringan, dan manajemen aset.

Perangkat ini mampu memonitor dan mengontrol energi yang dikeluarkan secara online dan real time. Smart Panels bekerja dalam tiga tahap, yaitu pengukuran atau measure, penghubungan atau connect, dan penyimpanan data atau save.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X