Kompas.com - 21/09/2015, 03:11 WIB
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahmad Djuhara terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) periode kerja 2015-2018 menggantikan Munichy B Edrees.

Djuhara yang karib disapa Juju mengungguli dua kandidat lainnya yakni Muaz Yahya, dan Rizal Syarifuddin. Juju mampu meraup 1.277 suara, disusul Muaz sebanyak 459 suara, dan Rizal dengan 65 suara.

Pemilihan Ketua Umum IAI merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional IAI ke-XIV yang digelar di Medan, Sumatera Utara, selama dua hari 17-19 September.

Jabatan Ketua Umum IAI, dianggap sangat strategis. Terlebih saat Rancangan Undang-undang (RUU) Arsitek tak kunjung disahkan oleh DPR RI, dan beratnya tantangan tahun-tahun mendatang saat serbuan arsitek asing berpraktik di Indonesia semakin agresif.

RUU Arsitek

Juju, dikenal sebagai aktivis dan juga organisatoris murni. Sejak masih mahasiswa, dia pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Parahayangan Bandung pada 1988-1989.

Setelah itu, berturut-turut Juju kemudian menempati posisi struktural dalam berbagai organisasi, termasuk pernah menjadi Ketua IAI Jakarta pada 2006-2009. Juju juga merupakan inisiator dan pendiri Green Building Council Indonesia (GBCI).

Juju berharap dapat mengegolkan Rancangan Undang-undang (RUU) Arsitek dan membentuk Dewan Arsitek Indonesia sebagai program prioritas.

"Saya akan membawa IAI melalui pranata baru keprofesian arsitek Indonesia. Untuk itu, RUU Arsitek harus tembus (goal)," jelas Juju kepada Kompas.com, Minggu (20/9/2015).

Juju menegaskan, jika pemerintah ingin arsitek Indonesia maju dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri harus punya regulasi yang jelas. Terlebih tahun ini Masyarakat Ekonomi ASEAN akan diberlakukan.

Pekerjaan rumah IAI, kata Juju, sebetulnya sangat kompleks. Termasuk mengedukasi masyarakat untuk lebih paham mengenai profesi arsitek. Selain itu, pemerintah juga perlu menegaskan bahwa proyek-proyek bangunan memang harus dirancang arsitek yang berkompeten.

"Sementara untuk internal, saya akan membuat IAI Daerah lebih mandiri, terutama secara finansial. Perlu ada sebuah cara yang efektif membangun hal ini," ujar Juju.

Caranya, terang Juju, dengan merancang regenerasi organisasi menjadi lebih modern yang secara finansial berkelanjutan. Sebaran sponsor perlu dipetakan sesuai dengan potensi intervensi pasar industri konstruksi.

Arsitek yang berkompeten, menurut Juju, harus dibayar dengan proporsional sesuai dengan kompetensinya. Kue industri konstruksi di daerah, selama ini tidak sampai ke arsitek karena tidak dilibatkan. Banyak bangunan-bangunan di daerah yang tidak dirancang oleh arsitek.

"Ini yang akan saya ubah. Karena pasar terbuka akan memaksa masyarakat kita belajar tentang standar yang baik," imbuh Juju yang berencana merangkul Muaz dan Rizal dalam susunan kepengurusan baru.

Ralat:

Perolehan suara final yang diraup Ahmad Djuhara sebanyak 703, Muaz Yahya 459, dan Rizal Syarifuddin 65 suara.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.