Serapan Anggaran Kementerian PUPR Baru 33 Persen

Kompas.com - 03/09/2015, 07:00 WIB
Kondisi Ruas Jalan tol Kanci-Pejagan, Senin (17/8/2015). ARI PRASETYO/Kompas.comKondisi Ruas Jalan tol Kanci-Pejagan, Senin (17/8/2015).
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam pemaparan hasil kinerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di depan anggota Komisi V DPR RI, Menteri Basuki Hadimuljono menyebutkan beberapa capaian yang sudah dilakukan. Dari keseluruhan proyek, terhitung pukul 17.00 pada Rabu (2/9/2015) serapan anggaran mencapai 33,03 persen, dan serapan fisik 35,75 persen.

Capaian yang dinilai besar ini sempat disangsikan oleh anggota DPR. Serapan yang tinggi dianggap karena proyek baru mulai berjalan. Untuk proyek pembangunan jalan, misalnya, serapan menjadi tinggi karena adanya pembebasan dan persiapan lahan.

Terkait hal tersebut, Basuki menyanggahnya. Menurut dia, baik serapan anggaran maupun fisik justru lebih besar saat pembangunan.

"Pada pengaspalan, bobot kerja makin besar. Contohnya Mataram, sempat ada rekonstruksi jalan menggunakan expansive soil dan geo membran. Tanah diambil semua. Tapi, sampai pengaspalan, presentasi membesar daripada pekerjaan tanah," ujar Basuki.

Pernyataan ini diperkuat oleh Direktur Jenderal Bina Marga Hediyanto W. Husaini. Menurut Hediyanto, sampai saat ini, pembangunan fisik mencapai 38 persen. Dengan demikian, Dirjen Bina Marga memiliki waktu 4 bulan atau efektif 3,5 bulan menyelesaikan pekerjaan sisa 62 persen.

Dalam perjalanan hingga mencapai 38 persen, Hediyanto menyebutkan, serapan pada kuartal satu hanya beberapa persen per bulan. Menyusul kuartal dua adalah 6 persen, kuartal tiga 8-12 persen, dan kuartal empat 15-20 persen.

Hediyanto juga menuturkan, pada awal konstruksi, pengerjaannya antara lain meliputi pondasi dan galian tanah. Proses ini dikerjakan dalam waktu yang cukup lama. Proyek jembatan misalnya, pengerjaan pondasi memakan waktu lebih lama.

Sementara pada proyek pembangunan jalan, persiapannya meliputi antara lain pembukaan hutan. Karena tidak menggunakan alat yang canggih dan dikerjakan secara manual, maka hal tersebut membutuhkan waktu dan biaya murah. Hal ini yang membuat serapan anggaran dan fisik lebih kecil di awal proyek.

"Mulai pertengahan sampai akhir, pekerjaan fabrikasi jembatan menggunakan brick case yang paling atas. Pengerjaannya mahal tapi cepat," jelas Hediyanto.

Adapun untuk proyek jalan, tambah dia, pada pertengahan sampai akhir pengerjaan, meliputi pengaspalan dan pengecoran. Untuk mengerjakannya, membutuhkan alat yang padat dan mahal komponennya. Dengan demikian, serapan menjadi lebih tinggi dalam waktu singkat.

Kemudian, di bagian akhir atau finishing, serapan kembali rendah karena hanya tinggal memasang marka atau rambu. Pada proses terakhir ini, diperkirakan hanya menggunakan 2 persen dari total nilai proyek.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X