Kompas.com - 11/08/2015, 12:20 WIB
Penulis Latief
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Biru. Kemana pun mata memandang, warna itu muncul begitu kuat. Bak memantul dan saling beradu, nuansa membiru itu begitu dominan baik dari langit maupun dasar kolam yang melingkar.

Kolam membiru itu memang berbentuk melingkar dikelilingi vila hotel bermaterial kayu dan bambu. Alhasil, ketika melempar pandangan ke sekeliling, kontrasnya warna biru dan coklat kayu menjadi perpaduan cantik dan teduh.

Sampai sekarang, di seluruh Pulau Gili Air memang tidak ada resor berkonsep lagoon seperti di Gili Air Lagoon itu. Ada 17 unit vila hotel di resor ini, dan semuanya dibuat melingkari atau menghadap ke kolam renang yang bernuansa biru itu. 

"Memang dibuat berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah konsep kolam renang yang kami buat melingkar dikelilingi 17 unit vila ini. Desainnya gabungan antara tradisional dan modern. Dari luar orang melihat nuansa tradisional Lombok, tapi di dalamnya menegaskan sebagai hotel modern, bukan vila. Kalau hotel room kan lengkap fasilitasnya," kata Djaja Roeslim, Presiden Direktur PT Trias Jaya Propertindo (TJP), kepada KOMPAS.com, Sabtu (8/8/2015), di Gili Air Lagoon, Gili Air, Lombok.
 
Djaja menuturkan, bukan tanpa tujuan dirinya meminta seorang arsitek asal Bali merancang konsep lagoon tersebut pada resor ini. Ia ingin mengumbar kenyamanan, terutama untuk para tamunya dari luar negeri.

"Kami di sini menjual mood untuk bule-bule itu. Saya sudah lihat Gili Trawangan, dan pulau itu sangat ramai. Trawangan itu party island, sedangkan Gili Meno lebih seperti honeymoon island. Nah, Gili Air itu family island, maka kami buat resor ini seperti halnya pulau itu, yaitu membuat keluarga nyaman," tambahnya.

M LATIEF/KOMPAS.com Sampai sekarang, di seluruh Pulau Gili Air memang tidak ada resor berkonsep lagoon seperti di Gili Air Lagoon itu.
Bule semua

Dibandingkan Gili Trawangan atau Gili Meno, Pulau Gili Air memang lebih sepi. Alamnya bagus dan terjaga sehingga potensinya untuk meraup wisatawan mancanegara sangat besar. Namun, hanya investor berkemauan besar mau melirik pulau ini.

Djaja mengakui, awal ke datangannya ke Gili Air pada 2013 masih meraba-raba. Ia hanya sepintas berkeliling pulau dan belum berpikir untuk menakar keuntungan sama sekali, apalagi lahan resor Gili Air Lagoon itu ia bangun di atas lahan sewa milik Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Awalnya kami sewa, setelah terbangun jadi BOT (Build, Operate and Transfer). Kami masih belum tahu berapa tahun sewanya, tapi kami perkirakan 30 tahun. Investasinya mahal, terutama material," ujar Djaja.

Menurut dia, cost untuk membiayai fisik bangunan di pulau (Gili Air) lebih tinggi dibandingkan membangun di daratan. Besarnya bisa 50 persen lebih mahal, bahkan dua kali lipat dari Jakarta.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.