Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 03/08/2015, 09:52 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Bank Indonesia (BI) menghapus Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Nomor 17/10/PBI/2015 secara inden, dinilai kurang tepat. Menurut Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Eddy Hussy, adanya KPR inden justru lebih banyak sisi positifnya daripada negatifnya.

"Saya rasa, KPR inden menguntungkan kedua belah pihak, baik pengembang maupun konsumen. Konsumen bisa beli lebih awal," ujar Eddy kepada Kompas.com, Minggu (2/8/2015).

Eddy mengatakan, harga KPR inden berbeda dibandingkan saat rumah sudah jadi. Ketika rumah sudah terbangun, tentu harganya menjadi lebih tinggi. Dengan adanya KPR inden, konsumen sudah bisa mencicil sejak rumah belum dibangun.

Terkait persentase perbedaaan antara harga rumah inden dan sudah jadi, Eddy mengaku tidak bisa memprediksinya. Dia menyebutkan, perbedaan harga ini sangat tergantung lokasi rumah tersebut. Semakin strategis lokasi suatu rumah, maka harganya bisa naik lebih cepat.

Eddy menambahkan, KPR inden tidak perlu dihapus jika tujuan BI adalah untuk menghilangkan kekhawatiran konsumen terhadap rumah yang belum jadi. Eddy mengklaim, kasus penipuan pengembang terhadap konsumen, yaitu dengan membawa lari uang tanpa membangun rumah, tidaklah banyak. Dari sekian banyak pengembang, ia memprediksi jumlahnya yang menipu dengan cara seperti itu hanya segelintir saja.

"Saya lihat di mana-mana itu pembangunan jalan. Pembangunan yang terbengkalai dan merugikan konsumen, sangat sedikit. Ini tidak bisa jadi acuan," jelas Eddy.

Sebaliknya, pengembang yang terpercaya, pasti dijamin oleh bank. Bank tidak akan memberi kredit jika pengembang dinilai meragukan. Eddy juga menyebutkan, beberapa waktu lalu dia bertemu dengan pejabat BI, ketentuan KPR ini masih ada.

Dia mengungkapkan, sempat ada isu untuk mengadakan jaminan tambahan. Meski begitu, hal ini juga tidak mendesak. Pasalnya, pencairan dananya sudah dikontrol oleh bank.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+