Singapura Butuh Sepuluh Tahun Bangun Gedung Hemat Energi - Kompas.com

Singapura Butuh Sepuluh Tahun Bangun Gedung Hemat Energi

Kompas.com - 30/07/2015, 13:35 WIB
www.shutterstock.com Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak 2006, otoritas Singapura telah menyiapkan kota yang lebih hemat energi dengan fokus bangunan hijau sebanyak 80 persen pada 2030.

Menurut Director Center for Sustainable Buildings and Construction Authority of Singapore Jeffrey Neng, dalam perjalanan 10 tahun ini, Singapura bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut.

"Membangun gedung hijau lebih mudah dilakukan sebelum gedung ini dibangun. Pasalnya, Anda bisa menetapkan penambahan apa saja yang diperlukan," ungkap Jeffrey kepada Kompas.com, di Gran Melia Jakarta, Rabu (29/7/2015).

Ketika pengembang menyadari pentingnya keberlanjutan lingkungan, lanjut Jeffrey, akan mudah menyiapkan bangunan yang ramah lingkungan. Apalagi, jika didorong regulasi yang dibuat pemerintah.

Tantangan yang lebih sulit, kata Jeffrey, adalah menghadapi bangunan yang sudah ada. Bangunan ini sudah lebih dulu beroperasi sebelum dipasangi peralatan atau mesin yang bisa menunjang bangunan hijau. Bangunan yang sudah beroperasi ini juga telah diisi oleh penghuni.

Menurut dia, untuk menyiasati hal tersebut, perlu adanya regulasi dari pemerintah yang mendorong sosialisasi informasi kepada pihak pemilik bangunan atau pemilik industri. Tantangan berikutnya untuk memastikan bangunan berjalan efisien yang juga di luar kendali Jeffrey adalah pengguna atau penghuni gedung.

"Anda butuh energi untuk mengisi daya komputer jinjing, untuk menyalakan lampu. Kami tidak bisa memaksa penghuni untuk tidak menggunakan daya secara berlebihan yang berujung pada bangunan tidak efisien," tutur Jeffrey.

Dengan demikian, kunci utama bangunan ramah lingkungan adalah kembali pada penggunanya. Pengguna gedung harus paham peran yang mereka mainkan saat menggunakan energi di dalam gedung.

Menurut Jeffrey, fokus berikutnya adalah menyiapkan lingkungan kantor, pusat perbelanjaan, bahkan restoran yang lebih hijau. Caranya tidak hanya menyiapkan desain bangunan secara fisik, melainkan menciptakan kesadaran kepada pengguna, supaya tidak menggunakan energi yang tidak diperlukan.

Jeffrey mengatakan, pengguna harus diberi inspirasi bagaimana gedung beroperasi lebih efisien. Karena jika kesadaran ini tidak dibentuk, konsumsi energi bangunan hijau bisa menyerupai bangunan non-hijau.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari Indonesia untuk menyiapkan bangunan hijau. Regulasi, menurut dia, memang penting, tapi bukanlah kunci satu-satunya. Jeffrey pun mengutarakan proses Singapura menuju bangunan hijau yang memerlukan kombinasi beberapa faktor dan peran stakeholder.

"Pertama pemerintah mengambil peran kepemimpinan, misalnya menganjurkan pengembang untuk membangun gedung baru yang hijau. Hal ini bisa terwujud jika pemerintah memang mau mencapai kota yang efisien dengan bangunan hijau," jelas Jeffrey.

Berikutnya adalah saat otoritas memberi intensif kepada sektor privat dalam menyiapkan bangunan ramah lingkungan. Sepuluh tahun lalu, otoritas Singapura menyiapkan 20 juta dollar Singapura atau setara Rp 196 miliar, untuk mendorong perubahan awal. Setelah pemerintah dan sektor privat bekerja sama, tambah Jeffrey, muncullah permintaan untuk bangunan hijau.

Namun, yang perlu dilakukan sebelum permintaan ini bertambah, adalah menyiapkan arsitek dan desainer yang mumpuni. Ia menilai percuma jika pengembang menginginkan gedung hijau, tetapi arsitek dan desiner yang bertalenta sangat terbatas.

"Kami melatih mereka (arsitek dan desainer) bagaimana gedung hijau beroperasi, bagaimana menyiapkan gedung hijau. Tujuannya jelas, supaya mereka sanggup melayani permintaan pembangunan desain gedung hijau," kata Jeffrey.

Setelah itu, sebut dia, pemerintah membuat regulasi yang ditujukan untuk masyarakat dalam mengoperasikan gedung hijau. Jika semakin banyak orang menyadari pentingnya menggunakan energi di dalam gedung ramah lingkungan, maka akan semakin mudah meyakinkan mereka yang belum sadar.

Misalnya, saat 40 persen orang sadar lingkungan, mereka bisa meyakinkan 60 persen lainnya. Hal tersebut lebih mudah dibandingkan saat persentasenya masing-masing 1 persen dan 99 persen.

Lebih singkat

Jeffrey mendorong Indonesia bisa mengikuti Singapura dalam menciptakan bangunan hijau. Menurut dia Indonesia bisa mempersingkat waktu dalam mempelajari sistem bangunan hijau, baik dari regulasi maupun fisik bangunan itu sendiri.

"Kami memulai semuanya 10 tahun yang lalu. Kami juga memulai dari nol. Saat itu, saya membutuhkan seseorang untuk mengajarkan saya apa itu bangunan hijau. Kami banyak belajar," kisah Jeffrey.

Saat mempelajari bangunan hijau, tutur dia, otoritas Singapura tidak serta merta menyalin apa yang sudah didapatkan. Singapura mempelajari kembali apa yang bisa diadopsi di negara tetangga Indonesia ini. Negara ini juga banyak belajar dari negara barat yang iklimnya berbeda.

Jeffrey mengatakan, semua yang dipelajari terkait yang bisa diterapkan dan bagaimana melakukannya dengan benar. Pengetahuan ini menuntun Singapura menyiapkan bangunan hijau yang beroperasi secara efisien.

Menurut dia, jika Indonesia memang menginginkan mencapai bangunan hijau, Singapura siap membantu. Namun, tentu saja, hal tersebut kembali kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Jeffrey meyakini, setiap negara memiliki prioritas. Ada negara yang fokus terhadap pembangunan infrastruktur dan baru akan fokus terhadap lingkungan pada tahun berikutnya. Hal tersebut, berpengaruh terhadap anggaran yang disiapkan.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X