Kompas.com - 19/07/2015, 14:13 WIB
Menara secara tradisional digunakan sebagai platform yang ditinggikan untuk menyiarkan azan. Sementara saat ini, penggunaan jam alarm shalat atau aplikasi pengingat solat di ponsel pintar meningkat. Menara secara tradisional digunakan sebagai platform yang ditinggikan untuk menyiarkan azan. Sementara saat ini, penggunaan jam alarm shalat atau aplikasi pengingat solat di ponsel pintar meningkat.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Pada tahun 1982, apartemen Nazir Khan di Dundas Street dan Highway 10, Toronto, Kanada, adalah tempat untuk anak-anak beribadah dan belajar tentang Quran. Khan pun memutuskan untuk membuat sebuah pusat kajian Islam yang lebih besar dan masjid untuk anak-anak dan orang dewasa.

"Anda hanya perlu ruang dan struktur dasar untuk mencapai hal ini," kata Khan, mantan presiden dan anggota pendiri Masjid Jam'e, bekas gudang yang berubah menjadi tempat ibadah.

Tidak seperti kota-kota di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim dan mudah membangun tempat ibadah, mereka di Toronto mulai hidup di gereja-gereja yang ditinggalkan dan bangunan industri atau komersial yang tidak terpakai. Beberapa bahkan didirikan di ruang bawah tanah tempat tinggal keluarga.

Dari luar, bangunan tidak memiliki tanda-tanda tradisional sebuah masjid, tidak ada menara atau kubah. Untuk para pemikir progresif mengenai arsitektur Islam perkotaan di Barat, kurangnya estetika tersebut adalah langkah menuju ruang beribadah yang modern dan ideal.

"Hari ini, fungsinya (untuk beribadah) yang lebih diutamakan, dan bentuk akan mengikuti. Bangunan berbentuk kubus sederhana bisa melakukan fungsi itu," kata Zak Ghanim, seorang arsitek yang berbasis di Toronto serta perancang Masjid Madinah di Danforth dan Masjid Jam'e Markham.

Ghanim percaya fitur ikon kubah dan menara akan mulai menghilang dari pengembangan masjid baru di Greater Toronto Area (GTA) karena komunitas Muslimnya lebih mapan.

"Muslim generasi pertama ingin masjid yang tradisional, bangunan dari masa lalu, tapi itu akan berubah," katanya.

Ada juga alasan praktis mengapa struktur ini menjadi kurang penting saat ini. Menara secara tradisional digunakan sebagai platform yang ditinggikan untuk menyiarkan adzan, atau panggilan untuk beribadah. Sementara saat ini, penggunaan jam alarm shalat atau aplikasi pengingat shalat di ponsel pintar meningkat.

Adapun kubah, pada kenyataannya, tidak pernah memiliki konotasi keagamaan dan hanya dibuat untuk melambangkan estetika struktur arsitektur.

Mohammad Qadeer, ahli perencanaan kota dan daerah dari Universitas Queen, tidak berpikir detail bahwa menara harus dianggap sebagai tolok ukur dari budaya Islam.

"Di Amerika Utara, akan ada tipe baru masjid. Nantinya akan ada solusi arsitektur lain yang menyelaraskan struktur dalam lanskap.," katanya.

Qadeer memiliki minat khusus dalam pengembangan kota multikultural dengan etnis tertentu. Ia mencontohkan Pusat Islam Kingston. Desain masjid yang terletak di hamparan pedesaan di pinggir kota ini, telah mengadopsi gaya arsitektur dari pergudangan Kanada.

Desain masjid modern, bagaimanapun juga, sangat terpengaruh lingkungan, kondisi jalan, bahkan pengguna atau jamaah sebelumnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.