Kompas.com - 13/05/2015, 18:45 WIB
Ilustrasi. Ada cara mudah meningkatkan nilai jual rumah. www.shutterstock.comIlustrasi. Ada cara mudah meningkatkan nilai jual rumah.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan pertumbuhan harga rumah yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2015 ini diprediksi akan terus berlanjut pada kuartal kedua nanti.

Menurut Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada Rabu (13/5/2015), indikasi tekanan kenaikan harga terlihat dari kenaikan tipis yang hanya mencapai 1,44 persen secara triwulanan atau 6,27 persen secara tahunan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pertumbuhan tersebut lebih rendah ketimbang catatan kuartal sebelumnya sebesar 1,54 persen secara triwulanan atau 6,29 persen secara tahunan. Kenaikan harga bahan bangunan, upah pekerja, dan bahan bakar minyak (BBM), masih menjadi faktor utama penyebab pertumbuhan harga rumah.

Perlambatan pertumbuhan harga triwulanan terjadi pada semua tipe rumah, kecuali rumah tipe kecil yang mengalami kenaikan harga lebih tinggi yakni 1,98 persen, dari kenaikan sebelumnya 1,43 persen. 

Berdasarkan 16 wilayah yang disurvei BI, pertumbuhan harga rumah di Bandar Lampung tercatat paling rendah, yakni hanya 0,26 persen. Ini terutama terjadi pada rumah tipe besar 0,0 persen.

Sebaliknya, Makassar di Sulawesi Selatan, menunjukkan kinerja pertumbuhan harga tertinggi, sebesar 5,05 persen yang terjadi pada rumah tipe menengah (8,01 persen). Pesatnya perekonomian di kota ini dalam lima tahun terakhir, membaiknya kondisi infratsruktur dan transportasi, serta kemudahan perizinan mendorong investor melakukan investasi di sektor konstruksi.

"Ada pun perlemahan pertumbuhan harga rumah secara tahunan terjadi pada rumah dengan tipe besar, sementara rumah tipe kecil mengalami kenaikan harga paling tinggi," tulis BI.

Menurut BI, berdasarkan wilayah, yang mengalami perlambatan kenaikan harga rumah terbesar secara tahunan adalah Bandar Lampung, dan Yogyakarta. Sementara kenaikan harga tertinggi secara tahunan terjadi di Makassar, dan Manado.

Selain perlambatan kenaikan harga, BI juga mencatat pelemahan penjualan selama kuartal I tahun ini dari semula 40,07 persen, menjadi 26,62 persen. Menurunnya penjualan terjadi pada semua tipe rumah, terutama terjadi pada rumah tipe menengah. Penurunan penjualan terbesar dialami Palembang. Perkembangan ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR).


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.