Kompas.com - 04/05/2015, 20:45 WIB
Properti multifungsi Ciputra World Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, yang dikembangkan PT Ciputra Surya Tbk. ciputra world surabayaProperti multifungsi Ciputra World Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, yang dikembangkan PT Ciputra Surya Tbk.
|
EditorHilda B Alexander

Bukan tanpa alasan Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy mengungkapkan penurunan drastis penjualan properti hingga 50 persen. Menurut Eddy, penurunan penjualan ini disebabkan oleh berbagai. Faktor utama, tentu saja kondisi ekonomi yang melambat.

Penurunan tersebut memaksa REI menurunkan target penjualan, yang semula diharapkan naik 17 persen, hanya tumbuh menjadi 10 persen.

"Dengan kondisi seperti ini, kami tidak berani menetapkan target terlalu tinggi. Sehingga mengikuti kondisi ekonomi saja. Target pertumbuhan 10 persen dari realisasi tahun 2014," tandas Eddy.

Hal senada dilontarkan maestro properti Indonesia, Ciputra. Pendiri imperium Ciputra Group ini mengatakan pasar sedang terkoreksi. Dia pun mengimbau pengembang untuk hati-hati, dan tidak terlalu agresif melahirkan produk baru.

"Pasar sedang terkoreksi. Tingkat koreksi itu tergantung policy (kebijakan) pemerintah. Mau dibawa ke mana negara ini? Itu harus jelas. Pengembang tidak bisa asal bangun kalau tidak mau produknya tak laku," ujar Ciputra.

Menurut Ciputra, peringatan dini bakal terkoreksinya pasar properti lebih dalam, harus diantisipasi para pengembang, terutama pengembang medioker, dan pengusaha yang baru menggeluti sektor ini.

Lesunya ekonomi Nasional, kata Ciputra, paling berdampak signifikan terhadap bisnis perkantoran, dan kondominium atau apartemen strata. "Perkantoran sudah over supply (kelebihan pasokan), demikian juga apartemen. Kalau sudah ada 40 persen produknya terjual, baru dibangun. kalau masih kurang dari itu, pertimbangkan kembali," papar Ciputra.

Sebaliknya, bila proyeknya sudah mencapai tahap konstruksi 25 persen, harus diteruskan. Jangan sampai macet di tengah jalan. Karena hal ini, kata Ciputra, terkait erat dengan kepercayaan (trust) pasar.

"Kalau sekarang, prinsip kehati-hatian dan perhitungan matang sering diabaikan. Terutama oleh pengembang baru yang terlalu berani. Mereka kalap mencari pinjaman dari luar negeri dengan kurs dollar AS dan bunga tinggi. Lebih baik tidak membangun, daripada tidak bisa membayar utang," tandas Ciputra.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.