"Kota yang Cerdas Itu Kalau Sudah Tidak Ada Copet"

Kompas.com - 10/04/2015, 09:16 WIB
Petugas mengamati layar-layar di Bandung Command Center di kompleks Balai Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/3). Bandung Command Center merupakan sistem terpadu pemantau kondisi Kota Bandung untuk pengambilan tindakan yang tepat dan cepat terhadap permasalahan atau pengaturan kota.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Petugas mengamati layar-layar di Bandung Command Center di kompleks Balai Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/3). Bandung Command Center merupakan sistem terpadu pemantau kondisi Kota Bandung untuk pengambilan tindakan yang tepat dan cepat terhadap permasalahan atau pengaturan kota.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - "Kota yang cerdas itu kalau sudah tidak ada copet". 

Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (ITB) Suhono Harso Supangkat, mengungkapkan pengalamannya saat mengikuti konferensi internasional mengenai Smart City di Barcelona, Spanyol, beberapa waktu silam.

Oleh karena itu, mengacu pada pengalamannya tersebut, konsep kota cerdas harus menyangkut berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya melulu terkait pada peningkatan penggunaan teknologi informasi canggih.

Suhono menjelaskan, konsep kota cerdas atau  smart city  adalah kota yang menjadikan kecanggihan teknologi untuk memudahkan pengelolaan dan tata kelola kota.

"Teknologi digunakan untuk membantu mengetahui persoalan di lapangan. termasuk persoalan kriminalitas. Sebuah kota bisa disebut cerdas bila sudah tidak ada copet atau tindak kriminalitas lainnya," kata Suhono saat jumpa pers Asia Afrika Smart City Summit 2015, di Jakarta, Kamis (9/4/2015). 
Lebih jauh Suhono memaparkan, kota cerdas dapat dinilai dari beberapa faktor, antara lain adalah faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sementara dari sisi ekonomi, kota cerdas merupakan kota yang memaksimalkan sumber daya atau potensi kota termasuk layanan teknologi informasi dan komunikasi.

Ada pun dari sisi sosial, kota cerdas adalah kota yang memiliki keamanan, kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat dalam melakukan interaksi. 

"Kemudian dari sisi lingkungan, kota cerdas dinilai dari apakah masyarakatnya memiliki tempat tinggal layak huni, sehat, hemat dalam penggunaan energi serta pengelolaan energi," tambah Suhono.

Lantas kota mana yang sudah menerapkan aspek-aspek kota cerdas? Suhono menilai, ada tujuh kota yakni Banda Aceh, Balikpapan, Yogyakarta, Depok, Surabaya, Makassar, dan Bandung.

"Kota-kota ini sudah menjalankan tata kelola perkotaan dengan memanfaatkan teknologi sehingga permasalahan kota dapat diketahui cepat dan dicarikan solusinya," kata Suhono.

Sementara menurut Urbanis Indonesia, Bambang Eryudhawan, membangun kota cerdas bukanlah sekadar soal pembaruan teknologi. Peralatan bisa, dan mudah dibeli. Tetapi tradisi menata kota yang berkesinambungan oleh pelaku kota, khususnya pemerintah kota masih mimpi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X