Gedung Tinggi, Antara Gengsi dan Reputasi (II)

Kompas.com - 15/03/2015, 17:00 WIB
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan pembukaan gedung perkantoran Sahid Sudirman Center setinggi 59 lantai di Sahid City, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2015).
HBA/Kompas.comPresiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan pembukaan gedung perkantoran Sahid Sudirman Center setinggi 59 lantai di Sahid City, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2015).
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki, dan membangun gedung tinggi, apalagi yang masuk kategori pencakar langit, tak semata soal gengsi, melainkan juga reputasi. Gedung tinggi sama halnya dengan pencapaian klimaks sebuah rekam jejak. Karena, di situlah kredibilitas, kemampuan finansial, tenaga, pikiran, mentalitas, dan nama baik dipertaruhkan.

Tak mengherankan, saat Sahid Sudirman Center rampung pembangunannya dan dibuka pada Sabtu (14/3/2015), Vice President Director Sahid Group, Haryadi B Sukamdani semringah bukan kepalang.

Pasalnya, yang meresmikan pembukaan gedung dengan ketinggian 258 meter dan berisi 59 lantai menurut perhitungan marketing ini adalah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). 

Selain itu, undangan yang ikut menjadi saksi hidup pencakar langit hasil kolaborasi strategis antara Sahid Group, Pikko Land Group, dan Dua Mutiara Group (Tan Kian) ini juga tak sembarangan. Melainkan orang-orang dengan reputasi mencorong.

HBA/Kompas.com Chairman Lippo Group, Mochtar Riady, menghadiri prosesi pembukaan Sahid Sudirman Center, Sabtu (14/3/2015).
Sebut saja taipan pendiri imperium Lippo Group, Mochtar Riady, putri tertua Ciputra, Rina Ciputra Sastrawinata, Ketua Umum Golkar 1998-2004, Akbar Tanjung, Menteri Negara Investasi Indonesia 1999, Marzuki Usman, serta raksasa-raksasa properti lainnya, termasuk Nio Yantoni dari Pikko Land Group. 

Pembangunan pencakar langit, seolah menjadi sebuah keharusan. Karena pencakar langit juga bisa dianggap sebagai identitas dan ikon paling kuat yang membangkitkan kesadaran publik. Ketika orang bertanya ikon kota Kuala Lumpur atau Malaysia paling tersohor, pasti jawabannya adalah Petronas Twin Tower yang menjulang 452 meter. Ketinggiannya ini masuk dalam kategori supertall (gedung di atas 300 meter).

Demikian halnya ketika publik bertanya mengenai Dubai, Uni Emirat Arab, pasti tak lepas dari Burj Khalifa yang mengangkasa 828 meter sehingga masuk dalam kategori megatall  (gedung dengan ketinggian di atas 500 meter). 

Menurut Haryadi, meskipun di Jakarta banyak dibangun pencakar-pencakar langit, namun Sahid Sudirman Center diharapkan dapat menjadi kebanggaan dan salah satu ikon kota. Dengan kata lain, Sahid Sudirman Center merupakan sebuah signature property  yang menjadi kebanggaan. Setidaknya bagi Sahid Group, Pikko Land Group, dan Dua Mutiara Group. 

"Tak akan ada lagi gedung seperti ini yang akan kami bangun. Mungkin jangka waktu lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan setengah abad sekalipun. Oleh karena itu, kami mengerahkan segala kemampuan, keahlian, dan juga dukungan finansial agar Sahid Sudirman Center ini menjadi kebanggan," tutur Haryadi kepada Kompas.com, Sabtu (14/3/2015).

HBA/Kompas.com Presiden Direktur Pikko Land Group, Nio Yantoni, paling kanan, menjelaskan prosesi peresmian Sahid Sudirman Center kepada koleganya, Sabtu (14/3/2015).
Jakarta atau Indonesia sendiri Menurut Editor Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Daniel Safarik, masih kalah dibanding Malaysia jika dilihat dari ketinggian gedung dengan kategori supertall eksisting. Malaysia unggul sebanyak tiga gedung, yakni si kembar Petronas Tower dan Menara Telekom.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X