Bos Ditangkap KPK, Sentul City Makin Agresif Bangun Properti

Kompas.com - 09/03/2015, 22:00 WIB
Bos Sentul City Cahyadi Kumala (memakai rompi tahanan) ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Selasa (30/9/2014). Cahyadi ditahan terkait kasus dugaan suap rekomendasi tukar menukar kawasan hutan di Kabupaten Bogor yang juga melibatkan Bupati non aktif Kabupaten Bogor Rahmat Yasin.  TRIBUNNEWS/DANY PERMANABos Sentul City Cahyadi Kumala (memakai rompi tahanan) ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Selasa (30/9/2014). Cahyadi ditahan terkait kasus dugaan suap rekomendasi tukar menukar kawasan hutan di Kabupaten Bogor yang juga melibatkan Bupati non aktif Kabupaten Bogor Rahmat Yasin.
|
EditorHilda B Alexander
BOGOR, KOMPAS.com - Ditahannya Presiden Direktur PT Sentul City Tbk., Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Selasa (30/9/2015), memaksa manajemen perusahaan pengembang ini mengganti beberapa unsur pimpinan strategis.

Menurut Investor Relation Manager Sentul City, Michael Tene, setelah Swie Steng ditahan di rumah tahanan KPK, kepemimpinan Sentul City pun dirombak total.

"Perombakan terjadi setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) November 2014, sekarang Presiden Direktur Sentul City adalah Keith Steven Muljadi. Salah satu alasannya memang ketika sudah ada tersangka, direksi harus diganti," ujar Michael kepada Kompas.com, Minggu, (8/3/2015).

Michael menjelaskan, penggantian ini dilakukan untuk menjaga citra perusahaan. Langkah cepat dan strategis ini dilakukan agar kinerja perseroan tidak terganggu, terutama dalam segmen penjualan. Perseroan pun tidak mengadakan riset untuk mencari tahu hal itu.

Namun begitu, Michael menyayangkan pemberitaan yang beredar bahwa Cahyadi tertangkap karena terkait alih fungsi hutan di Kabupaten Bogor. "Kalau dibilang hutan lindung, salah. Penggunaannya itu hutan produksi. Kalau dilihat dari atas, itu tengahnya sudah botak," jelas Michael.

Banyak proyek

Sentul City sendiri memiliki bank tanah seluas 13.000 hektar. Komposisi terbesar berada di Sentul Nirwana. Lahan dengan luas 12.000 hektar. Seluas 100 hektar di amtaranya sudah digarap. "Karena sisanya banyak, kami tidak kembangkan sendiri melainkan patungan modal," buka Michael.

Michael memastikan, saat ini belum ada pihak lain yang bekerja sama dengan Sentul City untuk mengembangkan lahan ini. Perseroan masih membuka peluanh terhadap berbagai kemungkinan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk proyek rumah tapak, Sentul City menargetkan dapat membangun 2.313 unit dalam 10 klaster. Produk rumah tapak tersebut antara lain Centronia Residence, Riverside Residence, Santorini, Spring Mountain, dan Green Valley Residence. Menyusul telah beroperasinya tiga hotel, yaitu Harris Hotel (160 kamar), Neo Plus Green Savana (71 kamar), dan Watanna Hotel (33 kamar).

Dalam beberapa tahun mendatang, perseroan akan mengelola lima hotel dengan total jumlah 1.874 kamar. Sejumlah proyek yang telah memasuki tahap konstruksi saat ini antara lain The Alana Ah Poong by Aston (271 kamar), Novotel Sentul Resort (220 kamar), dan Aston Sentul Lake Resort & Conference Centre.

Ada pun hotel yang masih dalam tahap proses desain, yaitu Hyatt Regency Sentul (220 kamar), Sentul Tower Hotel & Service Apartment (480 unit), dan Quest Sentul Nirwana (280 kamar).

Selain itu, Sentul City juga mengembangkan dua apartemen bernama Sentul Garden (522 unit) dan Sentul Tower (632 unit).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X