Kompas.com - 11/02/2015, 15:41 WIB
Pelayanan PDAM Pamekasan banyak mendapat keluhan pelanggannya. Keluhan diterima Bupati Pamekasan dan mengancam akan mencopot jabatan kepala PDAM KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANPelayanan PDAM Pamekasan banyak mendapat keluhan pelanggannya. Keluhan diterima Bupati Pamekasan dan mengancam akan mencopot jabatan kepala PDAM
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Ternyata, dari total 359 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di seluruh Indonesia, tidak seluruhnya menjalankan operasional secara efektif, dan efisien. Terutama dalam hal pemanfaatan energi.

Berdasarkan analisa penilaian kinerja PDAM yang dilakukan Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) sepanjang 2014 lalu, sebanyak 74 PDAM masih berstatus sakit. Sementara 103 PDAM lainnya berstatus kurang sehat, dan hanya 182 PDAM berstatus sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Operasionalisasi PDAM yang tidak efektif dan efisien tersebut mendorong pembengkakan biaya energi yang berpengaruh langsung terhadap biaya produksi dan distribusi pelayanan air minum. Pada gilirannya, lonjakan biaya tersebut berdampak signifikan terhadap tingginya tarif air minum.

Biaya energi yang dikeluarkan PDAM umumnya mencapai 20 persen hingga 30 persen dari total biaya PDAM. Ini disebabkan desain sistem yang tidak optimal, instalasi listrik yang tidak memenuhi standard, pola pengoperasian mekanikal dan elektrikal yang tidak tepat, penurunan kinerja peralatan listrik dan pompa serta pemeliharaan yang tidak sermpurna hingga faktor non-teknis.

Oleh karena itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) berupaya mendorong peningkatan manajemen internal PDAM dengan menyusun peta jalan (roadmap) peningkatan efisiensi energi.

"Untuk memenuhi target peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan air minum, tentunya kondisi PDAM harus sehat sehingga mampu mengoperasikan Seistem Pelayanan Air Minum (SPAM) secara efektif dan efisien melalui manajemen internal PDAM yang kuta," papar Direktur Pengembangan Air Minum, DIrektorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU-Pera, Mochammad Natsir dalam workshop Peta Jalan Efisiensi Energi PDAM, di Jakarta, Rabu (11/2/2015).

Pemanfaatan energi yang efisien, lanjut Natsir, menjadi isu penting karena masih menjadi penyebab utama belum optimalnya kinerja PDAM. Untuk itu, sejak 2012, Ditjen Cipta Karya bekerja sama dengan USAID, Perpamsi, Asian Development Bank (ADB), dan World Bank, mulai mengembangkan Program Efisiensi Energi.

"Pelaksanaan efisiensi energi ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan PDAM yang selanjutnya mendorong operasionalisasi berjalan lebih sehat.

Salah satu Program Efisiensi Energi yang didukung USAID dan telah dijalankan adalah kegiatan Indonesia Urban Water, Satitation, and Hygiende (IUWASH) dan Indonesia Clean Energy Development (ICED).

USAID-IUWASH mendukung peningkatan kinerja operasional PDAM melalui eudit efisiensi energi di wilayah dampingannya yakni Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Gresik, Kota Salatiga, dan Kota Parepare.

Sementara dukungan USAID-ICED berupa kajian dan analisis terhadap pembiayaan alternatif untuk investasi dalam merehabilitasi fasilitas yang mengonsumsi energi tinggi.




Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.