Tanjung Kurnia Benamkan Rp 400 Miliar untuk Pengembangan Hotel

Kompas.com - 12/12/2014, 15:42 WIB
ILUSTRASI - Kamar hotel ShutterstockILUSTRASI - Kamar hotel
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang pendatang baru, PT Tanjung Kurnia bersiap mengucurkan dana senilai Rp 400 miliar untuk merealisasikan rencana bisnis strategis tahun depan. 

Rencana bisnis tersebut adalah ekspansi di sektor perhotelan dengan membangun tiga hotel ekonomi (budget) dan satu hotel dengan klasifikasi bintang empat.

Komisaris PT Tanjung Kurnia, Tanto Kurniawan, menjelaskan mengenai rencana perusahaan pada tahun 2015 kepada Kompas.com, Jumat (12/12/2014).

"Tahun depan kami merambah Bandung, Jawa Barat, dan Bali. Kami telah menyiapkan capital expenditure (dana belanja modal) Rp 400 miliar yang berasal dari pinjaman perbankan nasional dan ekuitas perusahaan," tutur Tanto.

Tiga hotel ekonomi tersebut memiliki jumlah total kamar sebanyak 517 unit, masing-masing dua hotel di Bali, dan 1 hotel di Bandung. Sedangkan hotel bintang empat akan dibangun di Jababeka, Cikarang-Bekasi, tepat di depan situs Plaza Indonesia Jababeka.

"Kami menggandeng Archipelago International untuk mengelola hotel bintang empat dengan merek Aston Jababeka. Rencananya akan dibangun sebanyak 150 kamar. Pemancangan tiang pertama sekitar bulan Juli 2015 di atas lahan seluas 4.300 meter persegi," terang Tanto.

Aksi korporasi PT Tanjung Kurnia tersebut semakin mengonfirmasi bahwa bisnis perhotelan  Indonesia akan terus tumbuh. Bahkan, menurut survei Horwath HTL dan STR Global, Indonesia  masih bertengger dalam radar ekspansi bisnis pemain perhotelan di kawasan Asia Pasifik. Terbukti, negara ini memasok 12 persen dari total 14.705 kamar (58 hotel) yang buka sepanjang kuartal III 2014.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Survei itu juga menyebut, Indonesia hanya berada di bawah Tiongkok dengan jumlah pasokan 52 persen, dan India sebanyak 17 persen.

Selain itu, Indonesia memasok penawaran hotel baru (new deals signed) terbanyak kedua dengan 19 hotel baru yang mencakup 3.651 kamar. Sementara Tiongkok mendominasi dengan 129 penawaran baru atau melonjak 5 persen dari kuartal yang sama setahun lalu.

Dalam hal kinerja, hotel-hotel di Indonesia juga memperlihatkan pencapaian positif. Untuk segmen average daily rate (ADR) dalam mata uang lokal, tumbuh 9,3 persen. Pencapaian ini melampaui kinerja hotel-hotel di Jepang yang mengalami peningkatan ADR 7,7 persen, serta jauh melampaui Tiongkok dan India yang justru melorot masing-masing minus 2,9 persen.

Kinerja ADR Indonesia tersebut hanya kalah dari Maladewa dengan capaian ADR dua digit yakni 13,7 persen.

Sedangkan untuk jumlah kamar hotel yang masuk dalam pipa pengembangan (pipeline), Indonesia menjadi negara terkuat kedua dengan penambahan 61.000 kamar. Penambahan jumlah kamar ini sekaligus menumbangkan catatan India dengan 57.000 kamar hotel baru. Sedangkan Tiongkok masih menempati puncak sebagai negara dengan pipa pembangunan hotel terbesar yakni 291.000 kamar.

Dalam
tahun-tahun mendatang, tulis survei tersebut, lebih dari 2.300 hotel dengan tambahan 530.000 kamar baru akan semakin meramaikan pasar perhotelan kawasan Asia Pasifik. Dari sejumlah itu, 151.000 kamar di antaranya merupakan segmen kelas atas, diikuti kelas mewah 122.000 kamar dan kelas supermewah 85.000 kamar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X