Tahun Depan, Prospek Properti Jauh dari Suram

Kompas.com - 09/12/2014, 19:33 WIB
Ilustrasi. www.shutterstock.comIlustrasi.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Prospek bisnis properti tahun depan diprediksi tetap tumbuh positif, terutama produk-produk untuk segmen kelas menengah. Segmen kelas menengah Indonesia pada 2015 nanti bakal tumbuh menjadi sekitar 90 juta orang dengan daya beli tinggi.

Tak hanya itu. Kebutuhan hunian juga bertambah banyak terkait pertumbuhan populasi 1,49 persen per tahun. Di sisi lain, backlog (ketimpangan pasokan dan kebutuhan) hunian mencapai sekitar 15 juta unit per 2013.

Demikian rangkuman pendapat pengamat dan pelaku industri dan bisnis properti di sela-sela diskusi interaktif Housing Estate-Prospek dan Peluang Bisnis Properti 2015, kepada Kompas.com, Selasa (9/12/2014).

Ekonom Bank Permata yang juga Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, A Tony Prasetiantono, menjabarkan bahwa pertumbuhan bisnis dan industri properti berpeluang besar dan menjanjikan.

"Jadi, jangan khawatir kepada para pebisnis properti, karena pemerintah punya cadangan dana Rp 291 triliun dari pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang akan dialihkan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur," ujar Tony.

"Nah, pembangunan infrastruktur ini sangat terkait erat dengan pembangunan properti. Pergerakannya akan semakin aktif dan dinamis pada tahun depan," tambahnya.

Selain itu, lanjut Tony, pertumbuhan akan semakin melesat, bila Bank Indonesia selaku regulator melonggarkan pengetatan kredit properti. Terlebih kredit pemilikan rumah (KPR) melalui penurunan ketentuan loan to value (LTV) dari sebelumnya 30 persen hingga 50 persen menjadi 10 persen hingga 20 persen untuk segmen menengah bawah.

"Demikian juga dengan suku bunga. Saya tidak melihat urgensinya sama sekali BI menaikkan BI Rate menjadi 7,75 persen. Penurunan harga BBM dunia akan mengamankan fiskal negara. Kenaikan BI Rate itu terlalu reaktif, terbukti respon pasar negatif. Jadi, kalau suku bunga KPR sekitar 12-14 persen untuk KPR akan semakin memacu pertumbuhan properti, sementara untuk korporasi sekitar 10 persen ke bawah idealnya," tandas Tony.

Presiden Direktur PT Ciputra Residences, Budiarsa Sastrawinata, berpendapat senada. Dia optimistis sektor properti masih berjalan positif.

"Terlebih untuk sub sektor perumahan tapak dan apartemen. Namun pertumbuhan akan lebih tinggi jika alokasi subsidi BBM dialihkan untuk properti," kata Budiarsa.

Adapun GM Bahtera Mulia Propertindo, Feldrik Citra, juga berharap BI menurunkan suku bunga dan mengubah ketentuan LTV. Pasalnya, ketika LTV mulai diberlakukan, penjualan turun 20 persen.

"Kami memberikan subsidi kepada konsumen dan mereka antusias tetap membeli produk kami. Dengan demikian kami berharap LTV diturunkan karena pasar masih demikian banyak yang belum tergarap," ujar Feldrik yang memasarkan Permata Cimanggis, dan Cibubur Residences.

Baca tentang


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X