Waspada... 75 Persen Bangunan di Jakarta Gampang Roboh saat Gempa!

Kompas.com - 30/10/2014, 18:40 WIB
Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. www.shutterstock.comGedung-gedung pencakar langit di Jakarta.
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Tanah di Indonesia memiliki variasi pada tingkat kepadatannya, yakni lunak dan keras. Tetapi, kebanyakan tanah di Indonesia lunak.

Demikian dikatakan Ketua Himpunan Alhi Konstruksi Indonesia (HAKI), Dradjat Hoedajanto, pada seminar Hari Bangunan Indonesia, Kamis (30/10/2014). Tidak hanya itu, Indonesia juga masuk wilayah rawan gempa dan baik pelaku konstruksi maupun pemerintah, kurang memperhatikan aspek tersebut saat membangun suatu gedung.

"Aspek geologi dan geoteknik ini seringnya tidak dipahami," kata Dradjat.

Dradjat mengutarakan, kebanyakan pelaku konstruksi hanya bertumpu pada UU No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung. Menurut dia, hal itu tidak cukup kuat dijadikan dasar pembangunan gedung yang tahan terhadap gempa.

"Risiko gempa lebih tinggi dibandingkan ketentuan. Minimal dua kali lebih besar daripada (UU) Tahun 2002. Otomatis, hampir lebih dari 75 persen bangunan bisa roboh," tutur Dradjat.

Sementara itu, pada peraturan SNI 1726:2012, yakni tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non-gedung, Dradjat menganggap ketentuan tersebut masih kurang menjamin suatu gedung akan kuat dihantam gempa besar. Selama ini, banyak terjadi kegagalan pada bangunan akibat gempa.

Sayangnya, hal tersebut tidak dijadikan pelajaran, baik oleh pemerintah maupun para pelaku konstruksi. Bangunan yang sempat terkena gempa dibangun kembali, suatu ketika dihantam gempa lagi, kerusakan akan tetap terjadi.

"Padahal, gempa tidak bisa diketahui kapan akan datang dan seberapa besar kekuatannya," ujarnya.

Peraturan negara maju

Dradjat mengatakan, membuat gedung yang sama sekali tidak rusak pada saat gempa merupakan hal yang mustahil. Tetapi, ada cara bisa dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif gempa terhadap gedung.

"Namanya struktur bangunan terkait tahan gempa, artinya dia boleh rusak, tapi jangan ambruk sehingga penghuni atau yang di sekitarnya tetap selamat," jelas Dradjat.

Drajat pun mengacu pada negara maju, misalnya Amerika Serikat. Di sana, gedung-gedung secara rutin dilakukan penguatan setiap ada peraturan terbaru. Jika Indonesia tidak segera mengikuti langkah tersebut, maka gedung-gedung, khususnya di Jakarta, hanya tinggal menunggu datangnya gempa lantaran tidak pernah ada peninjauan ulang kelayakan gedung. 

"Tiap bangunan kan punya izin. Izin laik pakai, laik fungsi atau izin membangun. Izin membangun itu tiap lima tahun harus di-review, apakah dibolehkan lagi untuk tetap berfungsi," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.