Kompas.com - 13/10/2014, 10:01 WIB
|
EditorHilda B Alexander
BEKASI, KOMPAS.com - Ketua Umum Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP), Bernardus Djonoputro, mengungkapkan empat masalah krusial yang menyandera Bekasi sehingga kawasan ini belum dipersepsikan nyaman, dan layak huni oleh warganya.

"Bekasi belum mampu membawa warganya kepada standar kualitas hidup berdasarkan pada sembilan indikator kenyamanan sebuah kota. Sembilan indikator tersebut adalah tata ruang, lingkungan, transportasi, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, infrastruktur, ekonomi, keamanan dan kondisi sosial," ujar Bernardus menanggapi persepsi negatif publik terhadap Bekasi dalam sepekan terakhir, kepada Kompas.com, Senin (13/10/2014).

Dia menjelaskan, sebagai kawasan penyangga, Bekasi punya tantangan dan hambatan serupa dengan kawasan lainnya seperti Bogor, Depok, dan Tangerang. Namun, tantangan Bekasi lebih berat, karena kawasan ini punya zona khusus yang diperuntukan bagi industri yakni Cikarang. 

"Beban semakin berat saat Karawang, dan Purwakarta di sebelah timurnya pun dijadikan sebagai sentra kawasan industri, sehingga arus angkutan (komuter dan kendaraan) yang melintasi Bekasi semakin bertambah," ujar Bernardus.

Pertumbuhan kawasan industri di Bekasi, khususnya Cikarang, diakui Bernardus, sangat pesat dalam 15 tahun terakhir. Inilah yang menjadi masalah pertama yang menyebabkan kepadatan arus lalu lintas menuju dan dari Jakarta ke Bekasi tidak hanya terjadi saat peak hours (jam-jam sibuk) di satu lajur, melainkan sudah dua arah.

"Kemacetan tersebut terjadi karena masalah kedua yakni kurangnya mass rapid transit  (MRT) yang dikembangkan di kawasan ini. Sehingga komuter yang dapat terangkut hanya sedikit. Padahal, kalau MRT dikembangkan dalam jumlah proporsional yang sesuai dengan densitas populasi, kemacetan tidak akan terjadi," tandas Bernardus.

Masalah ketiga, lanjut Bernardus, adalah terbatasnya pilihan jalan bebas hambatan. Pilihan hanya satu yakni Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang dilintasi ribuan kendaraan berbagai jenis, mulai dari kendaraan pribadi hingga truk kontainer pengangkut hasil industri.

"Rencana pembangunan layang Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta Timur hingga kini tak jelas nasib dan bentuknya. Padahal, jika jalan layang ini kembali digarap, akan sangat signifikan dalam mengurai kemacetan," kata Bernardus.

Masalah keempat, terakumulasinya pembangunan sporadis yang sangat pro Jakarta sehingga struktur perkotaan Bekasi menjadi tidak terkendali.

"Pembangunan yang direncanakan oleh penyelenggara pemerintahan Bekasi sangat kuat ketergantungannya pada Jakarta. Padahal kalau Bekasi punya konsep dan rencana pembangunan sendiri, maka bisa memenuhi kebutuhan seluruh warganya, mulai bekerja, istirahat, hiburan, sekolah, dan lain-lain," pungkas Bernardus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Kabar Terbaru Pembangunan Depo LRT Jabodebek di Bekasi

Ini Kabar Terbaru Pembangunan Depo LRT Jabodebek di Bekasi

Berita
Rekomendasi Rumah Subsidi  di Karawang, Hanya Rp 150 Jutaan Saja

Rekomendasi Rumah Subsidi di Karawang, Hanya Rp 150 Jutaan Saja

Hunian
Akhir Juli, BP Tapera Guyur Rp 310,68 Miliar untuk 2.073 Rumah di Indonesia

Akhir Juli, BP Tapera Guyur Rp 310,68 Miliar untuk 2.073 Rumah di Indonesia

Hunian
Inovasi dan Kreasi Jadi Upaya bagi Damai Putra Group untuk Penuhi Kebutuhan Pasar

Inovasi dan Kreasi Jadi Upaya bagi Damai Putra Group untuk Penuhi Kebutuhan Pasar

Hunian
Presiden Minta Kementerian PUPR Perlebar Jalan Pelabuhan Kijing ke Pontianak

Presiden Minta Kementerian PUPR Perlebar Jalan Pelabuhan Kijing ke Pontianak

Berita
Segera Hadir 442 Rumah Subsidi di Bandung Barat, Cek di Sini

Segera Hadir 442 Rumah Subsidi di Bandung Barat, Cek di Sini

Hunian
Gandeng China, Malaysia Bikin “Logistik Park” Seluas 260 Hektar

Gandeng China, Malaysia Bikin “Logistik Park” Seluas 260 Hektar

Fasilitas
Golden Dacron dan Informa Pasarkan Produk Furnitur Lokal

Golden Dacron dan Informa Pasarkan Produk Furnitur Lokal

Interior
Tengah Direvitalisasi, Terminal Tingkir Bakal Dilengkapi Hotel dan Pusat Belanja

Tengah Direvitalisasi, Terminal Tingkir Bakal Dilengkapi Hotel dan Pusat Belanja

Berita
[POPULER PROPERTI] BPN Serah Terima Proposal Pelepasan Kawasan Hutan ke KLHK

[POPULER PROPERTI] BPN Serah Terima Proposal Pelepasan Kawasan Hutan ke KLHK

Berita
Proyek Rel Simpang Joglo Masuk Tahap 2, Waspadai Kepadatan Lalu Lintas

Proyek Rel Simpang Joglo Masuk Tahap 2, Waspadai Kepadatan Lalu Lintas

Berita
Rusun KEK Tanjung Lesung Rampung, Bikin Pekerja Hemat Ongkos

Rusun KEK Tanjung Lesung Rampung, Bikin Pekerja Hemat Ongkos

Hunian
Ada Relaksasi Aturan Perjalanan, Sektor Transportasi Tumbuh Positif

Ada Relaksasi Aturan Perjalanan, Sektor Transportasi Tumbuh Positif

Berita
KTP Digital Sekaligus NPWP bagi Warga Pangkalpinang Tergantung Server Pusat

KTP Digital Sekaligus NPWP bagi Warga Pangkalpinang Tergantung Server Pusat

Hunian
Bus PPD Sumbang 3 Persen Keterangkutan Stasiun MRT Lebak Bulus, Begini Trik Pengelola

Bus PPD Sumbang 3 Persen Keterangkutan Stasiun MRT Lebak Bulus, Begini Trik Pengelola

Berita
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.