Bekasi Jadi "Bulan-bulanan", Harga Lahan Meroket Tajam

Kompas.com - 13/10/2014, 07:57 WIB
Jalan layang KH Noer Ali Bekasi wartakotaJalan layang KH Noer Ali Bekasi
|
EditorHilda B Alexander
BEKASI, KOMPAS.com — Dalam sepekan terakhir, kawasan Bekasi menjadi "bulan-bulanan" para aktivis media sosial di Indonesia. Bahkan, perbincangan terkait Bekasi sempat menjadi trending topic saking seringnya dibahas.

Betapa tidak menjadi perbincangan, Bekasi juga sekaligus ironi; dekat dengan Jakarta, tetapi terasa jauh. Hal ini disebabkan banyak infrastruktur jalan yang rusak, yang memaksa warga menghabiskan waktu tempuh lebih lama, baik menuju maupun dari Jakarta ke Bekasi.

Namun, tahukah Anda, meski macet, semrawut, kotor, dan berdebu, kawasan Bekasi merupakan salah satu yang mengalami lonjakan harga lahan tertinggi di antara sesama megapolitan Jabodetabek?

Jika pada 2008 harga lahan untuk kawasan perumahan atau di jalan-jalan lingkungan hanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per meter persegi, saat ini dalam catatan Cushman and Wakefield Indonesia, harganya meroket hingga menembus angka Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per meter persegi. Harga setinggi itu dipatok untuk kawasan perumahan di Summarecon Bekasi dan Grand Wisata.

Sementara itu, harga kavling komersial berada pada level lebih tinggi, yakni Rp 9 juta hingga 10 juta per meter persegi.

Bagaimana dengan harga lahan di kawasan industri?

Pergerakan harga lahan juga aktif terjadi di kawasan industri. Data Colliers International Indonesia menunjukkan, harga lahan kawasan industri di Bekasi merupakan tertinggi se-Indonesia. Terendah berada pada posisi 212,4 dollar AS dan tertinggi 254,9 dollar AS sehingga menghasilkan angka rerata 218,1 dollar AS.

Padahal, harga lahan kawasan industri pada periode yang sama setahun lalu rerata masih berada di level 206 dollar AS per meter persegi.

Melejitnya harga lahan di kawasan Bekasi tak pelak didorong aktivitas para pengembang dalam melakukan diversifikasi bisnisnya, antara lain PT Summarecon Agung Tbk, PT Jababeka Tbk, dan PT Lippo Cikarang Tbk.

Nama pertama tak hanya "membesut" kompleks perumahan skala kota Summarecon Bekasi seluas lebih dari 240 hektar, tetapi juga melengkapinya dengan berbagai fasilitas komersial, seperti Hotel Harris dan Pop, pusat belanja Summarecon Mall Bekasi, dan terakhir Apartemen The Spring Lake.

"Kami akan memasarkan The Spring Lake Tower ketiga setelah sukses dengan penjualan The Spring Lake Tower 1 dan 2," ujar Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki.

Sementara itu, PT Jababeka Tbk, melalui PT Graha Buana Cikarang, baru saja meluncurkan senior living D'Khayangan yang merupakan hunian untuk kalangan senior yang dilengkapi dengan taman untuk bercocok tanam. 

Selain itu, mereka juga menggarap Neo Djava sebanyak 44 unit yang dibanderol Rp 600 jutaan dan ruko East Park @ Jababeka Residence.

Demikian halnya dengan Lippo Cikarang. Seusai mendirikan Axia South Tower, hunian berkonsep apartemen servis hasil patungan usaha dengan beberapa perusahaan besar Jepang, mereka membangun Orange County seluas 233 hektar. Tak tanggung-tanggung, proyeksi nilai investasi bakal menelan Rp 250 triliun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X