Kompas.com - 02/10/2014, 07:00 WIB
Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, Bali di atas laut dangkal, Jumat (10/5/2013). Proyek Jalan tol sepanjang 12 kilometer dengan nilai investasi sebesar Rp 2,48 triliun tersebut ditargetkan siap operasi Juli 2013 guna mendukung penyelenggaran Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik yang akan digelar di Nusa Dua, Oktober 2013.

KOMPAS/PRIYOMBODOFoto udara proyek pembangunan Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, Bali di atas laut dangkal, Jumat (10/5/2013). Proyek Jalan tol sepanjang 12 kilometer dengan nilai investasi sebesar Rp 2,48 triliun tersebut ditargetkan siap operasi Juli 2013 guna mendukung penyelenggaran Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik yang akan digelar di Nusa Dua, Oktober 2013.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Guru besar kelautan dan pesisir Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dietrich G. Bengen mengakui, lingkungan alam Teluk Benoa sangat unik dengan sumber daya alamnya yang bagus. Hal lain menurutnya paling menonjol di teluk ini adalah ekosistem mangrove dan laut sebagai sumber kehidupan biotanya, termasuk ikan.

Namun, sejak dibangunnya Jalan Tol Bali-Mandara, terjadi perubahan signifikan di sekitar teluk tersebut. Abrasi dan pedangkalan di Pulau Pudut sangat memprihatinkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pendangkalan ini menyebabkan nelayan tidak setiap saat bisa menangkap ikan. Aktivitas watersport pun tidak setiap saat," katanya kepada Kompas.com, Rabu (1/10/2014).

Dietrich mengatakan, dalam kajiannya dia menekankan perlunya revitalisasi berbasis reklamasi di teluk tersebut. Hal itu karena revitalisasi ada didalamnya sebagai bagian yang tak terpisahkan, yakni membangun pulau-pulau baru. Dengan revitalisasi, Pulau Pudut yang selama ini mengalami abrasi keras akan dikembalikan seperti semula.

"Salah satu paling jelas kita amati adalah saat air laut surut terjadi pedangkalan. Dengan adanya pendangkalan setiap saat, ekosistem mangrove dangkal dan mengalami gangguan. Nah, untuk itu perlu upaya perbaikan melalui revitalisasi yang berbasis reklamasi, agar alur yang dangkal diperdalam," ujarnya.

Melalui perbaikan dan pemulihan di Teluk Benoa, akan ada nilai lebih bagi masyarakat sekitar, yakni ada tambahan ruang terbuka hijau, ada nilai ekonomis, ada juga nilai sosial, budaya dan religius," papar Dietrich.

Untuk itu, lanjut dia, penekanannya adalah revitalisasi berbasis reklamasi harus dilakukan, dan bila nilai konservasi tidak dipertahankan, tak dapat dielakkan lagi bahwa Bali makin stagnan pada persoalan lingkungan, dan akan terjadi abrasi besar-besaran di seluruh Bali.

"Tapi, bila dikelola dengan baik, melalui perbaikan dan pemulihan atau revitalisasi tanpa mengabaikan lingkungan tentu akan membawa dampak bagi lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya bagi masyarakat di sekitar yang menjadi penyangga kawasan itu," ujarnya.

"Itu yang namanya reklamasi harus berbasis ekosistem. Reklamasi harus bisa mengembalikan fungsi semula karena kerusakan lingkungan. Reklamasi tidak boleh mengganggu ekosistem, kalau perlu menambah nilai ekosistem baru. Ini berlaku bukan hanya untuk Teluk Benoa, tapi juga Teluk Jakarta," tambahnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.