Kompas.com - 01/10/2014, 16:14 WIB
Korea Selatan tampil sebagai salah satu raksasa properti Asia. Nilai investasinya mencapai hampir Rp 50 triliun yang tersebar di seluruh dunia. www.skyscrapercity.comKorea Selatan tampil sebagai salah satu raksasa properti Asia. Nilai investasinya mencapai hampir Rp 50 triliun yang tersebar di seluruh dunia.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KOMPAS.com - Kemajuan ekonomi Korea Selatan memunculkan paradoks. Warga kian sejahtera, tetapi tidak sedikit yang nelangsa lantaran tekanan hidup kian mendera. Untuk urusan tempat tinggal pun tak sederhana, bahkan bagi mereka yang berlabel eksekutif muda di sana.

Salah seorang di antara mereka adalah So Jeong-hyun (37), seorang eksekutif muda yang ditemui di Seoul, awal September. ”Memiliki apartemen ibarat pungguk merindukan bulan. Harganya terus naik dan semakin fantastis dari tahun ke tahun," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Lebih baik saya memikirkan biaya pendidikan anak dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami saja daripada membeli apartemen,” lanjut pria dengan anak laki-laki berusia tiga tahun tersebut.

Skema sewa dan deposit

Untuk tempat tinggal, Jeong-hyun yang bekerja di sebuah perusahaan global Korsel memilih menyewa apartemen. Skema yang dipilih adalah dia menyimpan deposito 500.000 dollar AS, sekitar Rp 6 miliar, untuk tinggal dua tahun, tanpa memikirkan uang sewa setiap bulan.

Sang pemilik apartemen akan memutar dana tersebut untuk mendapatkan imbal hasil, lalu mengembalikan pokoknya kepada Jeong-hyun saat masa sewa berakhir. Dengan skema ini, biaya sewa apartemen Jeong-hyun dinilai sekitar 5.000 dollar AS (Rp 60 juta) per bulan.

Skema ini lebih baik daripada mendepositokan uang di bank karena bunga yang rendah dan harga sewa apartemen (dibayar tunai) menjadi 7.000 dollar AS (Rp 84 juta) per bulan.

Raphael Choi (35), seorang manajer di perusahaan Korsel ternama, juga mengalami hal serupa. Raphael telah menikah selama tujuh tahun dan, meski istrinya bekerja, membeli tempat tinggal bukanlah prioritas.

”Prioritas kami sekarang adalah punya anak dan menyiapkan dana pendidikan baginya. Harga rumah atau apartemen terlalu mahal. Jadi, kami lebih baik menyewa dulu,” kata Raphael.

CATATAN:
Tulisan ini merupakan cuplikan dari tulisan utuh di Harian Kompas edisi Rabu (1/10/2014) berjudul "Sisi Nestapa Sebuah Negara Sejahtera" karya Budi Suwarna dan Hamzirwan.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.