Kompas.com - 11/09/2014, 11:33 WIB
Pengamat properti Panangian Simanungkalit punya pendapat berbeda mengenai kehadiran CBD baru di Jakarta. Menurutnya, tidak mungkin ada CBD baru, selain pusat bisnis di kawasan Tabita / KOMPAS.comPengamat properti Panangian Simanungkalit punya pendapat berbeda mengenai kehadiran CBD baru di Jakarta. Menurutnya, tidak mungkin ada CBD baru, selain pusat bisnis di kawasan "segitiga emas".
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) yang juga pakar properti, Panangian Simanungkalit, menyatakan bahwa kebangkitan kelas menengah sangat mendorong perkembangan sektor properti. Namun, sangat disayangkan, pemerintah tidak siap mengimbanginya dengan kebijakan untuk mendongkrak pertumbuhan properti untuk kalangan menengah bawah atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pendiri sekaligus Direktur Panangian School of Property itu menilai, perkembangan bisnis properti yang begitu menggelora selama 10 tahun terakhir telah menumbuhkan ketegangan dan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat bawah. Sangat pesatnya derap pembangunan sektor properti tampak hanya dinikmati kalangan tertentu saja, yakni golongan berpenghasilan tinggi, tanpa melibatkan kalangan menengah-bawah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Panangian mengatakan hal itu terasa sangat ironis. Menurut dia, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dalam hal ini Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) gagal menciptakan iklim kondusif bagi para pengembang untuk lebih banyak lagi membangun rumah bersubsidi, baik itu tapak (RSH) maupun rumah bersubsidi susun (rusunami).

"Karena setelah 10 tahun ini realisasi pembangunan RSH selalu jauh dari target, hanya tercapai 40-50 persen saja dari target pemerintah tetapkan sendiri, yaitu rata-rata 100.00 unit per tahun. Artinya, jumlah pembangunan RSH selama 10 tahun terakhir ini hanya sekitar 508 ribu unit atau hanya sekitar 25 persen dari jumlah seluruh rumah yang dibangun oleh para pengembang yang lebih dari 2 juta unit," kata Panangian dalam diskusi di Panangian School of Property, Rabu (11/9/2014).

Kegagalan serupa juga terjadi pada rencana pembangunan rumah susun sederhana milik bersubsidi atau rusunami. Dari rencana pembangunan 1000 tower rusunami dengan total 500 ribu unit, yang terbangun tak lebih dari 10 persen dari target atau sekitar 50,626 unit.

"Nah, sekarang bandingkan dengan pembangunan apartemen. Selama 10 tahun terakhir ini ada sekitar 80.000 unit apartemen yang dibangun para pengembang. Angka ini sangat jauh dari jumlah rusunami yang dibangun oleh para pengembang itu," kata Panangian.

Panangian mengakui, selama 3 tahun terakhir ini pertumbuhan properti Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Pasifik. Sayangnya, kenikmatan itu tidak dinikmati kalangan bawah. 

Selama ini, para pengembang lebih banyak membangun properti yang bersifat komersial demi mencari keuntungan. Hal itu tidak bisa disalahkan, karena pengembang bersifat profit motive dengan membidik kalangan menengah atas.

"Yang perlu dipertanyakan itu pemerintahnya. Kebutuhan untuk kalangan menengah itu tak perlu diurusi pemerintah, buat apa. Yang perlu diperhatikan itu kebutuhan kalangan bawah. Kebijakan pemerintah tidak memihak mereka, sebetulnya itulah penyebabnya," kata Panangian.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.