JORR W2 Beroperasi, Harga Lahan dan Properti di Kawasan Ini Melesat Tinggi

Kompas.com - 20/07/2014, 13:23 WIB
Ilustrasi: pembangunan jalan tol KOMPAS/YUNIADHI AGUNGIlustrasi: pembangunan jalan tol
|
EditorHilda B Alexander

Titik-titik strategis yang akan semakin laju pertumbuhannya, adalah Sentra Primer Baru Barat (SPBB). Kawasan ini sejatinya sudah tumbuh, terindikasi dari maraknya pembangunan proeprti seperti Puri Indah CBD, St Moritz Penthouse and Residences, dan kelak Ciputra Internasional.

Namun potensi pertumbuhannya ini masih belum berakhir. Tidak jauh dari SPBB, terdapat kawasan padat dengan demografi pendapatan menengah atas seperti Puri Indah, Kedoya, Permata Buana dan Kapuk.

Sependapat dengan Arta, Hendra menerangkan, sepanjang jalur Kebon Jeruk-Ulujami akan menjadi kawasan incaran dengan potensi menggiurkan. Bahkan, bisa jadi area baru yang lebih menarik buat investor karena harga lahan dan propertinya belum setinggi kawasan lainnya seperti TB Simatupang dan Puri Indah yang sudah berada pada kisaran Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per meter persegi.

"Properti komersial akan tumbuh subur. Dan jika itu terjadi, Jakarta punya area bisnis baru yang dapat mengurai kemacetan sekaligus aktivitas bisnis yang selama ini terkonsentrasi di CBD Jakarta. Sudah waktunya persebaran kawasan bisnis. CBD Jakarta terlalu padat untuk 12 juta hingga 18 juta komuter," imbuh Hendra.

Hendra menambahkan, Kebon Jeruk-Ulujami saat ini mirip dengan kondisi TB Simatupang pada 10 hingga 15 tahun lalu. Sekarang TB Simatupang sudah mulai bisa bersaing dengan CBD Jakarta. Nah, dengan beroperasinya Tol JORR W2 ini, akan ada pergeseran.

"Nanti akan ada pergeseran lagi antar JORR dan JORR 2. Begitu JORR 2 tersambung. Persisnya akan mirip koridor S Parman-Gatot Soebroto dan MT Haryono," tutur Hendra.

Bagaimana dengan kenaikan harga? Menurut Hendra, kenaikan akan sebanding dengan koridor S Parman-Gatot Soebroto-MT Haryono, berkisar 10 persen per tahun. Kalau transaksi aktif, kenaikan bisa sampai 15-20 persen per tahun. "Jadi, kenaikan harga lahan dan properti rerata mencapai 10 sampai 15 persen per tahun," tandasnya.

Hanya saja, untuk mencapai kenaikan harga maksimal, kata Hendra, pembangunan jalan lokal dan jalur busway serta ramp  masuk-keluar jangan mirip dengan koridor S Parma-Slipi-Tomang-Grogol. "Itu sangat tidak terencana, jangan sampai Kebon Jeruk-Ulujami mengulangnya," pungkasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X