Kasus Kebakaran di Jakarta Tumbuh 47 Persen!

Kompas.com - 02/07/2014, 08:18 WIB
Pemilik kios mengabadikan api yang melalap Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (25/4/2014). Sebanyak 43 unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang mulai berkobar sekitar pukul 04.00 WIB. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut namun penyebab kebakaran belum diketahui pasti. KOMPAS / LUCKY PRANSISKAPemilik kios mengabadikan api yang melalap Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (25/4/2014). Sebanyak 43 unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang mulai berkobar sekitar pukul 04.00 WIB. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut namun penyebab kebakaran belum diketahui pasti.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com -  Pertumbuhan jumlah kebakaran di DKI Jakarta mencapai 47 persen dengan 1.475 kasus. Hampir setengah dari pertumbuhan jumlah kebakaran tersebut, terkait dengan kelistrikan, misalnya penggunaan alat listrik yang tidak standar.

Marketing Manager Partner Retail PT Schneider Indonesia Hery Saputra mengungkapkan hal tersebut dalam acara Media Gathering di Jakarta, Senin (1/7/2014).

"Data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penganggulangan Bencana DKI Jakarta menunjukkan bahwa di tahun 2013 terjadi 1.475 kasus kebakaran. Angka ini meningkat signifikan dari tahun 2013, di mana tercatat hanya terjadi 993 kebakaran. Dari 1.475 insiden tersebut, 699 di antaranya terjadi akibat hubungan arus pendek listrik. Artinya, saat ini masyarakat masih kurang menjaga keamanan jaringan listrik di rumahnya dan tidak mengikuti petinjuk umum instalasi listik," ujar Hery.

Umumnya, warga di kawasan padat penduduk tidak menggunakan peralatan listrik berstandar SNI. Hal ini juga dilaporkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta.

Sebenarnya, ada langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk menekan jumlah kebakaran akibat instalasi listrik berkualitas buruk. Ditemui setelah acara, Hery mengungkapkan bahwa penggunaan alat kelistrikan berkualitas dan pemasangan oleh tenaga terlatih merupakan kuncinya.

Memang sulit mengetahui kualitas pemasangan listrik yang buruk secara kasat mata. Hanya, pemilik rumah harus waspada ketika sering terjadi listrik "turun" atau terdengar bunyi berdengung dari sambungan listrik.

"Sayangnya, masalah listrik tidak mudah. Seharusnya diketahui sebelum terpasang. Kalau sudah terpasang, tidak ada acuan pasti. Tapi kami mendorong pemasangan dan dipasang dengan orang yang tepat," tandas Hery.

Hery juga menekankan, penggunaan alat-alat kelistrikan berkualitas buruk, palsu, dan tidak sesuai standar juga berbahaya. Masyarakat sebaiknya memperoleh barang-barang kelistrikan dari toko resmi, dan waspada jika harganya jauh di bawah harga pasaran.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X