Kompas.com - 18/06/2014, 07:28 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
BANDUNG, KOMPAS.com - Menurut Real Estat Indonesia (REI), kekurangan rumah (backlog) di Indonesia mencapai 15 juta unit. Jumlah ini tidak main-main, namun Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) punya solusinya. 
Puskim Balitbang PU sudah menyiapkan teknologi tepat guna untuk mengentaskan kekurangan rumah tersebut. 

Kepala Puslitbang Permukiman Kementerian PU Anita Firmanti mengungkapkan, Puskim Balitbang PU sudah menghasilkan Sistem Runah Instan Sederhana Sehat (Risha). Sistem tersebut hasil gubahan Kepala Balai Perumahan dan Lingkungan Puslitbang Permukiman Kementerian PU Arief Sabaruddin.
 
Pembuatan sistem ini, kata Anita, dilatarbelakangi kebutuhan dan rendahnya daya beli masyarakat umum di Indonesia. Menurut UU No 1 Tahun 2011, masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali, harus memiliki hunian yang layak. Jika daya beli masyarakat rendah, maka perlu adanya terobosan teknologi berkualitas namun rendah biaya. Selain itu, karena kebutuhannya begitu besar dan terus bertambah, maka perlu juga solusi yang cepat.
 
"Untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, mau memilih teknologi apa saja, uang ada, tidak menjadi masalah. Tetapi, kami harus berpihak kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Nah, pusat litbang ini berusaha keras menghasilkan rumah-rumah, teknologi pembangunan rumah yang bisa dibangun secara massal dengan harga terjangkau," ujarnya dalam pembukaan Kolokium, dan Pameran Produk Puskim Balitbang PU di Bandung, Selasa (17/6/2014).

Tabita / KOMPAS.com Maket rumah sederhana dalam pameran yang diadakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung, Selasa (17/6/2014).
Pada dasarnya, Risha adalah sistem pembangunan rumah yang menggunakan beton cetak atau precast concrete. Hanya dengan mencetak tiga modul dalam jumlah besar, rumah-rumah sederhana bisa dibangun dengan cepat.
  "Membangun Risha sangat cepat. Kalau dulu jargonnya pesan pagi, sore huni. Tapi kelihatannya, sorenya seminggu kemudian. Paling seminggu untuk selesai. Tapi sangat cepat untuk ukuran membangun rumah layak huni," tandas Anita.  
Anita menambahkan, beton dipilih karena adanya nilai prestise. Selain itu, sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, penerimaan dari masyarakat pun tergolong baik. Di Aceh sudah berdiri 10.000 unit Risha. 

"Selain Aceh, kami sudah membangun Risha di lebih dari 60 kawasan seluruh Indonesia. Sudah diuji tahan gempa. Jadi, untuk daerah rawan bencana, atu punya risiko tinggi terhadap gempa, maka teknologi ini sangat tepat. Bisa dikembangkan tidak hanya horizontal, tapi bisa juga secara vertikal," pungkasnya
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.