"Nomor Urut Pemesanan", Tren Memanjakan Pembeli Potensial!

Kompas.com - 22/05/2014, 14:26 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Skema nomor urut pemesanan (NUP) atau biasa disebut dengan priority pass dalam bisnis properti mulai menjadi tren. Beberapa pengembang dengan reputasi dan rekam jejak bagus merasa percaya diri dengan memberlakukan NUP atas proyek barunya.

NUP diberikan secara khusus kepada pembeli potensial sebelum produk properti secara resmi diluncurkan kepada publik. Biasanya, seminggu atau tiga hari menjelang peluncuran, pembeli potensial sudah mendapatkan NUP tersebut.

Associate Director Residential Sales Colliers International Indonesia, Aliviery Akbar, mengatakan, NUP terbukti efektif dalam penjualan, contohnya pada kasus Pondok Indah Residence, dan Holland Village. Dengan mengantongi NUP, pembeli potensial mendapat keuntungan memilih unit terbaik dengan harga lebih baik sebelum peluncuran resmi.

"Skema NUP terbukti cukup ampuh, khususnya untuk properti high demand (permintaan tinggi). Properti high demand ini maksudnya berada di lokasi strategis dengan proyeksi nilai investasi terus tumbuh, dan dikembangkan oleh developer ternama dengan rekam jejak baik. NUP ini bisa diberikan secara langsung kepada calon pembeli atau melalui perantara," jelas Aliviery kepada Kompas.com, Rabu (21/5/2014).

Sebaliknya, NUP akan menjadi bumerang dan tidak efektif membantu penjualan jika dikeluarkan oleh pengembang baru dengan portofolio terbatas.

"Siapa mereka, bagaimana kualitas proyeknya, apakah proyek ini akan terbangun, atau jangan-jangan mangkrak di tengah jalan, itu harus menjadi pertimbangan. Tidak sembarang pengembang bisa menerapkan skema NUP untuk mendulang penjualan," tambah Aliviery.

Fenomena NUP mulai terjadi sejak empat tahun lalu. NUP diterapkan pengembang untuk mengetahui kondisi dan reaksi pasar atas produk properti yang mereka tawarkan. Pertempuran sesungguhnya untuk memenangkan persaingan terjadi saat NUP digelar. Pertanyaannya, apakah pasar akan bereaksi negatif atau positif?

"Pemegang NUP bisa kemudian langsung membeli atau sebaliknya menarik diri. Ini yang dimaksud pertarungan sesungguhnya. Meskipun NUP seratus persen, namun belum tentu hasil yang sama akan didapatkan dalam penjualan. Bisa jadi si pemegang NUP menarik diri, karena yang mengajukan untuk mendapat NUP adalah orang lain, istri, teman atau anak yang belum mendapat restu pemilik uang," tutur Aliviery.

Lepas dari itu, tambah Aliviery, skema NUP memudahkan pengembang untuk mengetahui dan menghitung potensi marketing sales sejak awal.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X