Asing "Keok", Peritel Lokal Masih Merajai Bandung dan Bali!

Kompas.com - 23/04/2014, 11:00 WIB
ILUSTRASI - Pembeli memilih kaus berdesain Bandung yang dijual pedagang kaki lima di trotoar kawasan factory outlet Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (25/12/2012). Kaus khas oleh-oleh Bandung yang harganya murah meriah tersebut banyak diburu wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang mengisi liburan di Kota Bandung. Setiap musim liburan kaus dengan harga Rp 50 ribu per tiga potong ini dalam sehari bisa terjual sekitar 75 buah. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN ILUSTRASI - Pembeli memilih kaus berdesain Bandung yang dijual pedagang kaki lima di trotoar kawasan factory outlet Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (25/12/2012). Kaus khas oleh-oleh Bandung yang harganya murah meriah tersebut banyak diburu wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang mengisi liburan di Kota Bandung. Setiap musim liburan kaus dengan harga Rp 50 ribu per tiga potong ini dalam sehari bisa terjual sekitar 75 buah.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Arus globalisasi terus mendorong pertumbuhan bisnis ritel dan pusat belanja. Di kota mana pun di Indonesia akan mudah ditemui peritel-peritel serupa, mulai peritel pakaian dan kuliner Matahari Department Store, Kentucky Fried Chicken, Solaria hingga Kafe Betawi semua tersedia di kota besar maupun kota lapis kedua, dan ketiga.

Namun, menurut Associate Director Research and Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Soany Gunawan, daerah yang belum "terintimidasi" secara masif oleh dampak globalisasi peritel tersebut adalah Bandung dan Bali. Kedua kota tersebut masih memiliki kekuatan pada konten lokal.

"Itulah mengapa, para pengunjung yang datang ke pusat-pusat belanja di kedua kawasan tersebut lebih banyak pendatang atau turis," ujar Soany kepada Kompas.com, Selasa (22/4/2014).

Bandung kaya dengan industri kreatif. Mereka punya basis produksi pakaian dan kuliner yang sangat kuat, serta didukung oleh industri garmen, konveksi, dan makanan rumahan. Jadi, wajar bila factory outlet atau gerai-gerai pakaian lokal dan makanan tradisional di Bandung masih merajai ketimbang ritel pakaian skala nasional atau global.

Pun, demikian dengan Bali. Gerai-gerai lokal yang berjejer di sepanjang spot-spot wisata masih menjadi incaran penduduk lokal dan turis (asing dan domestik). Sementara itu, pengunjung yang berbelanja di pusat-pusat belanja modern justru penduduk pendatang dari Pulau Jawa.

Itulah sebabnya, lanjut Soany, pusat belanja yang bernasib panjang dan ramai dikunjungi pada hari kerja dan akhir pekan di kedua daerah tersebut adalah yang berkonsep spesifik dengan diferensiasi pada rancangan arsitektural yang unik. Contoh nyata adalah Bali Beach Walk (Bali), Paris Van Java Mall dan Cihampelas Walk (Bandung).

"Ketiga pusat belanja tersebut mencatat tingkat okupansi di atas 90 persen dan tingkat kunjungan ribuan hingga puluhan ribu per hari," kata Soany.

Sementara itu, di daerah lain nuansa lokalitas justru tidak mendapat tempat. Kondisi tersebut seharusnya ditangkap jeli oleh pengembang. Pasalnya, Soany mengatakan, membangun sebuah pusat belanja tidak hanya mempertimbangkan jumlah populasi, melainkan juga purchasing power, kondisi lingkungan, dan pasar secara umum.

"Jika tidak ada diferensiasi alias mengusung konsep pusat belanja yang sama, bukan tidak mungkin terjadi kanibalisme. Ini seperti yang terjadi di pusat-pusat belanja Transmall Makassar, sekadar menyebut contoh. Membangun pusat belanja bukan cuma konstruksi big box, tapi juga pengelolaan tenancy mix," ujar Soany.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X