Sinar Mas: "Penjualan Properti Tahun Ini Melambat"

Kompas.com - 10/03/2014, 15:42 WIB
Cluster Sheffield sendiri berada di Greenwich Park, sebuah kawasan hunian di BSD City. Dikembangkan di atas lahan seluas 47,7 hektar, nantinya semua fasilitas di kawasan klaster ini dapat diakses hanya dengan berjalan kaki, tanpa batas dan aman.
Sinar Mas LandCluster Sheffield sendiri berada di Greenwich Park, sebuah kawasan hunian di BSD City. Dikembangkan di atas lahan seluas 47,7 hektar, nantinya semua fasilitas di kawasan klaster ini dapat diakses hanya dengan berjalan kaki, tanpa batas dan aman.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Penjualan sektor properti Indonesia tahun ini diperkirakan melambat. Sejumlah faktor yang mengakibatkan perlambatan tersebut karena kebijakan loan to value (LTV) oleh Bank Indonesia dan penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu).

"Penjualan akan melambat karena berbagai faktor," kata Managing Director Corporate Strategy & Services Sinar Mas Land, Ishak Chandra, Senin (9/3/2014).

Namun, Ishak juga mengemukakan bahwa dari sisi perekonomian makro, Indonesia dinilai akan terus membaik dengan pertumbuhan di atas lima persen. Padahal, hanya sedikit negara yang diperkirakan tingkat pertumbuhan ekonominya akan dapat melampaui Indonesia pada 2014, diantaranya China dan Filipina.

Ishak memaparkan, indikator yang menunjukkan perekonomian membaik adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dari 5,5--5,9 persen pada 2013 menjadi 5,8--6,2 persen pada 2014. Sejumlah indikasi lainnya yang bakal menunjukkan perbaikan ekonomi adalah inflasi yang diperkirakan menurun dari 9,8 persen pada 2013 menjadi 4,5 persen pada 2014, dan suku bunga acuan yang diprediksi menurun dari 7,25 persen pada 2013 menjadi 5,5 persen pada 2014.

"Kondisi makroekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2014 akan lebih positif dari 2013," ucapnya.

Sebelumnya, Direkttur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda mengatakan Indonesia diharapkan bisa meniru berbagai solusi alternatif dalam memecahkan permasalahan sektor properti seperti yang dilakukan di beberapa negara jiran semisal Singapura dan Malaysia.

"Apa yang dilakukan negara tetangga Singapura ketika harga properti naik tidak terkendali, melalui Housing Development Board (HBD) sebagai lembaga perumahan nasional Singapura, mereka membangun rumah-rumah menengah dengan harga wajar," kata Ali Tranghanda.

Sementara Malaysia, menurut Ali Tranghanda, juga melakukan hal yang serupa untuk mengendalikan harga tanahnya.

Hal itu, ujar dia, membuat pengembang swasta di Singapura dan Malaysia seakan-akan mempunyai "pesaing" sehingga mereka tidak menaikkan harga properti terlalu tinggi.

"Ini tidak bisa dilakukan pemerintah karena sampai saat ini pemerintah Indonesia belum ada badan perumahan yang khusus," katanya.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X