Pengembang Tuntut Pemerintah Sediakan Lahan Murah

Kompas.com - 08/02/2014, 19:04 WIB
Siap atau tidak siap, mayoritas penduduk Jakarta dalam waktu sekitar 10 tahun lagi akan tinggal di hunian vertikal. Maka, membeli apartemen tentu bisa menjadi pilihan menarik sebagai lahan investasi. www.shutterstock.comSiap atau tidak siap, mayoritas penduduk Jakarta dalam waktu sekitar 10 tahun lagi akan tinggal di hunian vertikal. Maka, membeli apartemen tentu bisa menjadi pilihan menarik sebagai lahan investasi.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Jangan salahkan pengembang bila harga apartemen sederhana saja saat ini harganya sudah selangit, menembus angka Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi. Ini lantaran harga lahan sudah tidak masuk akal dan ketersediaannya terbatas. 

Oleh karena itu, pengembang menuntut dukungan dari Pemerintah dalam menyediakan lahan murah untuk dibangun apartemen dengan harga terjangkau. Toh, apartemen tersebut ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan. 

Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, Rudy Margono, mengutarakan hal tersebut kepada Kompas.com, usai membuka pameran "Indonesia Properti Expo 2014" di Jakarta Convention Center, Sabtu (8/2/2014). 

"Kita menunggu kebijakan tata ruang baru. Selama ini, pengaturan optimalisasi lahan dari Pemda tidak maksimal. Satu hektar lahan hanya dimanfaatkan untuk pengembangan rumah 60 unit. Padahal, kalau dibangun apartemen bisa 500 unit. Harusnya Pemda memberikan dispensasi. Harga tanah di pinggiran Jakarta saja sudah sangat mahal, sudah mencapai Rp 10 juta sampai Rp20 juta per meter persegi. Apalagi di dalam, dekat dan pusat kota Jakarta," keluh Rudy.

Rudy berharap, pemerintah menyediakan lahan. Pengembang tentu tidak keberatan membangun hunian vertikal untuk mengurangi backlog 15 juta unit. Akan tetapi, selama ini pengembang dibiarkan jalan sendiri, harus mencari lahan sendiri. Padahal, dengan bantuan pemerintah, hal tersebut tentu jauh lebih mudah dilakukan.

"Kalau peraturannya belum mendukung dan terlalu rigid, belum lagi banyak sengketa, itu menyulitkan bagi kami. Jadi, jangan menyalahkan pengembang bila harga rusun atau apartemen sederhana paling murah saat ini di atas Rp 250 juta per unit," imbuhnya.

Dalam beberapa tahun ke depan, lanjut Rudy, masyarakat Jakarta harus tinggal di apartemen. Pasalnya, tinggal di apartemen sudah bukan merupakan gaya hidup baru, melainkan kebutuhan. Tinggal di apartemen, apalagi dalam kota, akan memangkas ongkos pengeluaran, waktu, dan tenaga. 

"Rumah susun, apartemen, dan kondominium akan menjadi pilihan utama karena kondisi lalu lintas kota Jakarta yang cenderung semakin padat, sementara orang-orang perlu dekat dengan tempat kerjanya. Mereka cenderung memilih rumah-rumah vertikal di dalam kota," tandas Rudy. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X