Dana Minim, Daya Saing Terpuruk.....

Kompas.com - 21/01/2014, 17:19 WIB
Warga melintasi ruas Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Kebon Jeruk-Ciledug di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, sebelum peresmian operasional jalan tol tersebut, Jumat (27/12/2013). Jalan tol sepanjang 5,8 kilometer itu merupakan bagian dari proyek JORR W2 yang akan menghubungkan ruas tol di TB Simatupang dan Tol Jakarta-Merak. JORR W2 akan beroperasi pada Agustus 2014. KOMPAS/YUNIADHI AGUNGWarga melintasi ruas Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Kebon Jeruk-Ciledug di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, sebelum peresmian operasional jalan tol tersebut, Jumat (27/12/2013). Jalan tol sepanjang 5,8 kilometer itu merupakan bagian dari proyek JORR W2 yang akan menghubungkan ruas tol di TB Simatupang dan Tol Jakarta-Merak. JORR W2 akan beroperasi pada Agustus 2014.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pantas saja jika daya saing infrastruktur Indonesia masih menempati peringkat ke-61 dari 144 negara pada 2013. Pasalnya, kondisi infrastruktur dalam negeri, menghadapi banyak kendala, terutama soal pembebasan lahan.

Direktur Operasional I PT Wika Beton, Ferry Hendriyanto, mengatakan hal tersebut kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (21/1/2014). Dia mengatakan, meski terjadi perbaikan posisi, tahun sebelumnya Indonesia hanya berada di posisi 78 dari 163 negara di dunia menurut World Economic Forum, namun perbaikan posisi ini tidak dapat mendeskripsikan kemajuan kondisi infrastruktur secara komprehensif.

"Pembebasan lahan masih menjadi masalah utama. Faktor ini bisa menyebabkan pembangunan infrastruktur jalan tol, misalnya, molor satu sampai dua tahun. Bandingkan bila pembangunan infrastruktur tanpa kegiatan pembebasan lahan, seperti jalan Tol Sarangan-Benoa, di Bali, yang hanya membutuhkan waktu 13 bulan," papar Ferry.

Tol Sarangan-Benoa, lanjut Ferry, memang merupakan infrastruktur yang dibangun di atas laut, namun, yang ingin ia tekankan di sini adalah, seyogyanya pembebasan lahan bisa dilakukan dengan lancar tanpa ada pihak yang dirugikan. Sehingga pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dapat terwujud.

Sebelumnya, Direktur Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Subagyo, sudah lebih dulu mengatakan hal itu. Menurutnya, realisasi pembangunan infrastruktur terutama jalan tol, baik yang dilakukan di Pulau Jawa, maupun Sumatera, terbentur masalah pembebasan lahan.

"Apalagi, setiap pembebasan lahan di masing-masing wilayah, memiliki kendala dan teknis berbeda. Jadi, kelancaran pembebasan lahan akan bergantung pada pendekatan yang kami lakukan dan kemauan Pemerintah Daerah-nya masing-masing," ujar Subagyo, Kamis (16/1/2014).

Ia berharap, pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Trans Jawa, dan ruas Non-Trans Jawa bisa dipercepat. "Target kami, dari total 23 jalan tol yang tengah dikerjakan, pengadaan lahannya harus sudah rampung tahun ini. Harus dikebut," imbuh Subagyo.

Terlebih, Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum mulai diberlakukan pada Januari 2015 mendatang.

"Bila target tak terpenuhi, kami harus mulai lagi dari awal," kata Subagyo.

Selain masalah pembebasan lahan, faktor utama lainnya yang mempengaruhi kelancaran pembangunan infrastruktur adalah dana.

Kepala Sub Direktorat Pengadaan Tanah, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, A Herry Marzuki, menjelaskan, dana dukungan pemerintah (land capping) untuk pembebasan lahan sejak 2009 sebesar Rp 4,5 triliun. Namun yang terserap baru mencapai sekitar Rp 1,5 triliun.

Menurut dia, penyerapan dana land capping ini tidak bisa cepat lantaran menunggu hasil dari proses pembebasan tanah yang dilakukan tim pengadaan tanah. Pencairan dana ini akan dilakukan apabila harga tanah sudah melonjak melebihi 110% atau 2% dari total nilai investasi pembangunan jalan tol.

Herry menyebutkan beberapa ruas yang sudah didukung oleh dana land capping antara lain ruas Cinere-Jagorawi seksi II, Semarang-Solo, Surabaya-Mojokerto, Pejagan Pemalang, ruas JORR W2 dan masih banyak lagi ruas tol yang mengalami lonjakan harga tanah.

"Tahun 2013, dana land capping yang dialokasikan sebesar Rp 950 miliar sementara tahun ini hanya Rp 300 miliar," imbuhnya.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X