Mungkinkah Belajar dari Kota-kota Cerdas di Eropa Ini?

Kompas.com - 21/01/2014, 15:04 WIB
Kota pertama yang termasuk dalam kota-kota tercerdas di Eropa adalah Kopenhagen, Denmark.  Kota ini pun berada di posisi unggul dalam daftar yang dibuat Siemens Green City Index for Europe. Pada 2014 ini Kopenhagen pun dicalonkan sebagai European Green Capital.
http://www.fastcoexist.comKota pertama yang termasuk dalam kota-kota tercerdas di Eropa adalah Kopenhagen, Denmark. Kota ini pun berada di posisi unggul dalam daftar yang dibuat Siemens Green City Index for Europe. Pada 2014 ini Kopenhagen pun dicalonkan sebagai European Green Capital.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
KOMPAS.com — Kota-kota di seluruh dunia bisa belajar dari kota-kota di Eropa. Umumnya kota-kota di Eropa padat, tetapi ditunjang dengan lokasi transit publik berkualitas baik, punya komitmen memberikan kenyamanan pada pejalan kaki dan pengendara sepeda, serta memiliki fokus untuk berkembang. Mereka juga menjadi kota yang memiliki solusi rendah karbon.

Kota-kota tersebut umumnya juga berhasil merangkul warganya dalam usaha mewujudkan kota cerdas. Nah, karena itulah, tidak salah rasanya jika warga Jakarta mau sedikit "belajar" dari kota-kota cerdas tersebut di Eropa.

M Latief/KOMPAS.com Seperti Kopenhagen, kota ini lebih pusing mengatur pejalan kaki dan pesepeda ketimbang pengendara mobil karena jumlahnya jauh lebih banyak. Sebanyak 67 persen perjalanan di dalam kota lebih banyak menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki.
Kopenhagen

Kota pertama yang termasuk dalam kota-kota paling cerdas di Eropa adalah Kopenhagen, Denmark. Kota ini pun berada di posisi unggul dalam daftar yang dibuat Siemens Green City Index for Europe. Pada tahun ini, Kopenhagen pun dicalonkan sebagai European Green Capital.

Penyematan kota ini sebagai salah satu kota paling cerdas memang bukan kebetulan. Kopenhagen merupakan salah satu kota dengan jejak karbon per kapita terendah di dunia. Kota ini pun punya target ambisius untuk mencapai netralitas karbon pada 2025.

Sejak saat ini, Kopenhagen pun sudah melakukan beberapa usaha. Beberapa upaya itu diantaranya menargetkan efisiensi energi, penggalakkan green building, dan menambah akses transit di kotanya. Penduduk kotanya pun tidak tinggal diam. Mereka secara aktif menggunakan sepeda untuk bepergian, sementara pemerintahnya mengembangkan teknologi terkini menyangkut peralatan bersepeda.

M Latief/KOMPAS.com Sebanyak 67 persen perjalanan di Amsterdam lebih banyak menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki. Bahkan, seperti dikutip dalam Fastcoexist.com, 10.000 sepeda sudah disediakan di seluruh kota, khususnya di dekat stasiun kereta.
Amsterdam

Kota kedua adalah Amsterdam di Belanda. Seperti Kopenhagen, kota ini lebih pusing mengatur pejalan kaki dan pesepeda ketimbang pengendara mobil karena jumlahnya jauh lebih banyak. Sebanyak 67 persen perjalanan di dalam kota lebih banyak menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki. Bahkan, seperti dikutip dalam Fastcoexist.com, 10.000 sepeda sudah disediakan di seluruh kota, khususnya di dekat stasiun kereta.

Beberapa tahun belakangan ini, Amsterdam sudah melangkah lebih maju untuk mewujudkan dirinya sebagai salah satu kota cerdas di dunia, tidak hanya di Eropa. Amsterdam memiliki Amsterdam Smart City, sebuah bentuk kerja sama swasta dan pemerintah yang fokus dalam usaha menggunakan kota tersebut sebagai laboratorium urban untuk mengumpulkan data dan mencari solusi mobilitas bagi para penduduk dan turis. Kerja sama ini bahkan telah menghasilkan 40 proyek, antara lain sistem parkir cerdas dan rumah yang mampu menyimpan energi.

Kedua kota tersebut memiliki kesamaan, yaitu keinginan untuk memberikan layanan transportasi yang tidak memproduksi polusi, serta memastikan pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan.

http://www.fastcoexist.com Selain kedua kota tersebut, ada pula kota Wina yang tengah mengembangkan teknologi tenaga surya.
Wina

Selain kedua kota tersebut, ada pula kota Wina yang tengah mengembangkan teknologi tenaga surya. Barcelona juga tengah mengembangkan penggunaan sepeda di kotanya dan perencanaan urban planning cerdas, dan Paris dengan sistem transportasi menggunakan sepeda-sepeda sewa. Belum lagi kota lain seperti Stockholm, London, Hamburg, Berlin, dan Helsinki.

Kota-kota ini sudah dalam proses menjadi kota cerdas dengan mengembangkan teknologi terkini untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Namun, jika kota-kota Anda baru berusaha mencegah warganya membuang sampah pada tempatnya, kapan kota Anda bisa sampai dan menjadi kota cerdas?

Sumber: www.fastcoexist.com

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X