"Pencakar Langit Hijau", Solusi Defisit Lahan di Perkotaan

Kompas.com - 20/01/2014, 15:08 WIB
Skygreens, Singapura. money.cnn.comSkygreens, Singapura.
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Di tengah keterbatasan lahan pertanian di megakota dengan populasi superpadat, seperti kota-kota Asia, dan mahalnya harga sayuran dan buah-buahan,  pertanian/kebun vertikal menjadi solusi yang cepat dan rendah biaya.

Pertanian vertikal bisa dikembangkan lebih lanjut, karena pertanian vertikal hanya membutuhkan cahaya alami, yakni sinar matahari.

Mudahnya membangun pertanian vertikal, membuat Jack Ng, pengusaha Singapura, menciptakan Skygreens. Ini adalah fasilitas rendah karbon pertama di dunia yang menghasilkan sayuran tropis dan bisa menjadi solusi urban untuk mencapai produksi berkelanjutan. Skygreens tidak membutuhkan lahan besar, air dan sumber daya energi yang digunakan pun minimal.

Skygreens juga tidak memerlukan pencahaayaan buatan untuk meningkatkan pertumbuhan tanamannya. "Pencakar langit" hijau ini terdiri atas empat lantai kaca yang berisi rak portabel dengan tanaman kubis dan selada China yang bisa berputar perlahan dan digerakan lift berdaya rendah.

Skygreens bisa dikembangkan di mana saja. Termasuk di atas bangunan yang awalnya merupakan gudang, bangunan kumuh dan gedung-gedung bertingkat. Bangunan-bangunan tersebut cocok untuk disemai sebagai media tanam bibit-bibit revolusi hijau. Selain di Singapura, Skygreens juga telah dikembangkan di Scranton, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Bahkan, Skygreens di kawasan ini merupakan pertanian vertikal tersebsar di dunia. Fasilitas ini dibangun oleh Green Spirit Farms (GSF) yang berbasis di New Buffalo, Michigan. Total luas "pencakar langit hijau" ini mencapai 3,25 hektar dalam bentuk rak tanaman enam susun yang berisi 17 juta tanaman.

Jadi, cara ini dapat memberi makan populasi global dengan cepat. Pasalnya menurut proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebanyak 86 persen penduduk di negara maju pasti tinggal di kota pada 2050 mendatang.

Pertanian vertikal sejatinya bertujuan untuk menghindari masalah tanaman pangan di dunia yang semakin kering dan rawan penyakit. Pakar ekologi Universitas Columbia, New York, Dickson Despommier, telah memperjuangkan pertanian vertikal sejak tahun 1999 dan memperlihatkan bahwa makanan harus tumbuh sepanjang tahun di gedung-gedung perkotaan bertingkat tinggi, mengurangi kebutuhan transportasi karbon, menghasilkan buah dan sayuran.

Rak tanaman pertanian vertikal dapat dikembangkan dengan sistem hidroponik bebas tanah, tanaman diberi nutrisi air dan diterangi oleh LED yang meniru sinar matahari.
Pengelolaannya pun tidak terlalu sulit, hanya butuh perangkat lunak dengan pengendali otomatis sehingga rak tanaman bisa berputar dan mendapat jumlah cahaya yang sama serta pompa air langsung untuk memastikan nutrisi yang merata.

Manager GSF, Daniel Kulko, mengatakan, produksi bayam, kangkung, tomat, selada, paprika dan stroberi bisa 10 kali lebih besar dari pertanian konvensional yang dibuka di New Buffalo, pada 2011. Mereka juga menghemat air jauh lebih baik daripada pertanian tapak.

Pertanian pertama GSF terinspirasi kekeringan jangka panjang yang telah melanda banyak negara bagian Amerika Serikat. "Air adalah masalah besar. Kami telah merancang pertanian vertikal untuk mendaur ulang itu, dan mereka menggunakan 98 persen lebih sedikit air per item produk dari pertanian tradisional," kata Kulko.

Pertanian vertikal
bisa menjadi solusi satu-satunya dengan menyediakan makanan yang lebih aman, karena produksi dapat terus dibuat bahkan ketika terjadi cuaca ekstrim. Lebih jauh lagi, saat petani berhati-hati untuk melindungi sawah mereka dari hama, pertanian vertikal tidak perlu herbisida atau insektisida. Mereka juga menghemat air jauh lebih baik daripada pertanian tapak.

Sebagian besar pertanian vertikal mengandalkan cahaya alami sebanyak mungkin. Di daerah khatulistiwa, Skygreens milik Jack Ng juga tidak memerlukan pencahayaan buatan untuk meningkatkan pertumbuhan.

Sebaliknya, di Kyoto, Jepang, Nuvege dikembangkan di ruangan berjendela. Mirip hanggar pesawat di mana pencahayaan LED disetel untuk dua jenis klorofil; merah dan biru. Nuvege memproduksi 6 juta selada per tahun, memasok pasar domestik, termasuk pelanggan Subway dan Disneyland Tokyo.

Dalam rekayasa tersebut, tagihan listrik memang dapat bertambah dengan cepat. Pasalnya, LED saat ini hanya sekitar 28 persen yang efisien, membuat biaya produksi tinggi dan mencegah peternakan vertikal bersaing dengan pertanian konvensional murah dan melimpah. Namun, para insinyur pencahayaan Philips di Belanda telah menemukan LED sebanyak 68 persen efisien, secara dramatis dapat mengurangi biaya.

Untungnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanaman tidak perlu selalu disinari matahari.
Selain di Singapura, Tokyo, dan New Buffalo, pertanian vertikal juga merambah institusi negara seperti The US Defense Advanced Research Projects Agency. Badan ini menggunakan pertanian vertikal di lantai 18  College Station, Texas, untuk memproduksi tanaman hasil rekayasa genetika, membuat protein yang berguna dalam vaksin.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X