Sekolah Tampil Cantik dengan Bata Ekspos

Kompas.com - 11/12/2013, 11:43 WIB
Batu bata yang digunakan merupakan salah satu fitur paling menarik dari fasilitas ini. Setiap batu bata dibuat oleh pengrajin lokal dengan ukuran 200 x 100 x 62mm. Selain batu bata, fasilitas ini juga menggunakan baja, anyam-anyaman, dan papirus.  www.dezeen.comBatu bata yang digunakan merupakan salah satu fitur paling menarik dari fasilitas ini. Setiap batu bata dibuat oleh pengrajin lokal dengan ukuran 200 x 100 x 62mm. Selain batu bata, fasilitas ini juga menggunakan baja, anyam-anyaman, dan papirus.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Pusat Pendidikan (Education Center) Nyaza ini berada di antara Kota Kigali dan Butare, Rwanda. Setidaknya, ada lebih dari setengah juta batu bata buatan tangan digunakan untuk membuat fasilitas tersebut oleh firma arsitektur dari Jerman, Dominikus Stark Architekten.

Batu bata yang digunakan merupakan salah satu fitur paling menarik dari fasilitas ini. Setiap batu bata dibuat oleh pengrajin lokal dengan ukuran 200 x 100 x 62mm. Selain batu bata, fasilitas ini juga menggunakan baja, anyam-anyaman, dan papirus. 

www.dezeen.com Semua jendela dalam kompleks bangunan ini mengarah ke lapangan yang ada di tengah-tengah. Sementara, kompleks ini tampak seperti benteng dari luar. Satu-satunya fasad terbuka ke dunia luar adalah kafe internet di sebelah selatan pintu masuk kompleks ini.
Pengarahan awal pembangunan pusat pendidikan ini sebenarnya hanya untuk memberikan penambahan dari bangunan eksisting. Program kemudian berekspansi dan menuntut Dominikus Stark Architekten membuat bangunan cukup besar untuk mengadakan berbagai proyek pendidikan. Tujuannya sederhana, di tempat baru tersebut, kegiatan belajar-mengajar dalam bentuk apa pun bisa dilaksanakan.

"Kompleks ini, dalam analogi pada tradisi bangunan lokal, seolah ditata menyerupai batu besar dalam lanskap," ujar Dominikus Stark dalam Dezeen.

www.dezeen.com Semua jendela dalam kompleks bangunan ini mengarah ke lapangan yang ada di tengah-tengah. Sementara, kompleks ini tampak seperti benteng dari luar. Satu-satunya fasad terbuka ke dunia luar adalah kafe internet di sebelah selatan pintu masuk kompleks ini.
Semua jendela dalam kompleks bangunan ini mengarah ke lapangan yang ada di tengah-tengah. Sementara, kompleks ini tampak seperti benteng dari luar. Satu-satunya fasad terbuka ke dunia luar adalah kafe internet di sebelah selatan pintu masuk kompleks ini. Di dalam kompleks terdapat perpusatakaan, laboratorium bahasa, tiga ruang kelas, dan sebuah ruang administrasi.

Uniknya, "benteng" ini memiliki pintu masuk yang relatif ringkih dan sangat simbolis. Pintunya dibuat dari lembaran tipis papirus.

"Pekerja setempat memberikan bangunan ini keanggunan sederhana dan mengkombinasikan berbagai elemen dari komples ini hingga membentuk sebuah unit yang kuat dan jelas," imbuh Stark.

www.dezeen.com Setidaknya, ada lebih dari setengah juta batu bata buatan tangan digunakan untuk membuat fasilitas tersebut oleh firma arsitektur dari Jerman, Dominikus Stark Architekten.
Fasilitas ini juga memiliki ruang makan yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari acara bincang-bincang, pesta, hingga upacara pernikahan. Semuanya dirangkum dalam area seluah 2.400m2. Konstruksi bangunan hanya menggunakan area seluas 1.000m2.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X