Kompas.com - 20/11/2013, 19:51 WIB
|
EditorHilda B Alexander
BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Kompetisi sengit sektor ritel (pusat belanja) di beberapa kota di Indonesia sudah mulai menjadi fenomena menarik untuk diikuti. Pengelola pusat-pusat belanja tersebut berlomba menggandeng peritel (tenant) yang popular di benak publik.

Untuk peritel utama (anchor tenant), tak sekadar peritel berbendera lokal, asing pun secara intensif didekati. Demi meraup pengunjung, omset dan juga gengsi. Di Medan, Sumatera Utara, contohnya, telah lama dibuka Sogo Department Store dan beberapa gerai pakaian dan kuliner asing di Sun Plaza. Sebentar lagi, Parksson akan beroperasi pada 2014 mendatang di Medan Center Point.

Demikian halnya dengan Solo, Jawa Tengah, yang telah diramaikan oleh Metro Department Store dan Lottemart di The Park Solo. Sementara Balikpapan, merupakan kota pertama di Kalimantan yang akan dimasuki oleh Debenhams Department Store dan juga kelak Sogo Department Store.

Menurut Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia, Anton Sitorus, gejala pesatnya pertumbuhan pusat belanja mulai terjadi pasca krisis finansial global 2008. Setelah krisis, pasar properti yang paling menjanjikan dan memperlihatkan pertumbuhan salah satunya Indonesia.

"Pusat belanja merupakan indikator paling representatif untuk menggambarkan pesatnya pertumbuhan pasar properti di daerah. Hal tersebut terstimulasi oleh pertambahan jumlah kelas menengah yang mencapai 45 juta orang dengan daya beli yang juga meningkat," papar Anton kepada Kompas.com, Rabu (20/11/2013).

Bahkan, McKinsey Global Institute memperkirakan jumlah kelas menengah Indonesia bakal mencapai 135 juta orang pada 2030 mendatang dengan pendapatan perkapita minimum 4.000 dollar AS per tahun.

Sementara Boston Consulting Group memproyeksikan jumlah kelas menengah Indonesia akan melonjak menjadi 141 jiwa pada 2020 mendatang. Jumlah ini hampir berlipat ganda ketimbang 2012 yang mencapai 74 juta orang. Lain lagi dengan Euromonitor International yang merasa yakin kelas menengah Indonesia bertambah menjadi 58 persen dari total populasi pada tujuh tahun ke depan.

Lonjakan jumlah kelas menengah tersebut seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat. Sekaligus melahirkan pola konsumsi baru yang terus bergerak menyesuaikan dinamika pasar.

"Perilaku konsumen kelas menengah sekarang berbeda dengan zaman dulu. Mereka lebih menuntut produk dan jasa yang menawarkan kenyamanan, prestis, dan kelas yang dapat mewakili status dan juga pernyataan sosial mereka. Bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan dasar," ujar Anton.

Oleh karena itu, galib adanya jika peritel global mulai marak memasuki Indonesia saat kelas menengah juga bertumbuh. Kendati, sejatinya, fenonema merebaknya peritel asing sudah terjadi sejak era 1990-an, terutama sejak masuknya nama-nama seperti Sogo Department Store, Carrefour, Metro Department Store, ACE Hardware, Marks&Spencer, Circle K, ToysRus dan Kinokuniya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.