Kompas.com - 11/11/2013, 13:42 WIB
Gedung baru SMA 61 yang diresmikan hari ini oleh Wali Kota Jakarta Timur, Krisdianto, Jakarta Timur, Kamis (13/6/2013). Gedung berlantai 3 ini merupakan sumbangan dari komite sekolah dan ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar di sekolah tersebut. TRIBUNNEWS/HERUDIN TRIBUN/HERUDINGedung baru SMA 61 yang diresmikan hari ini oleh Wali Kota Jakarta Timur, Krisdianto, Jakarta Timur, Kamis (13/6/2013). Gedung berlantai 3 ini merupakan sumbangan dari komite sekolah dan ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar di sekolah tersebut. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com — Bangunan sekolah sekarang ibarat penjara yang mengekang kreativitas para murid. Berbentuk gedung yang berkesan angkuh, berpagar tinggi, tertutup, dan asing dengan lingkungan sekitar.

"Anjlok"-nya kualitas dan fungsi gedung sekolah di Jakarta ini diungkapkan Ketua Kehormatan IAI Jakarta, Her Pramtama, saat rilis sayembara yang diadakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi DKI Jakarta dan IAI Jakarta, Sabtu (9/11/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Gedung sekolah sekarang banyak mengeluarkan energi berlebihan. Kalau dulu kita sekolah jarang pakai AC karena dirancang banyak bukaan sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik, sekarang sekolah lebih tertutup. Agar tidak panas, digunakanlah AC. Bentuk sekolah juga semakin lama semakin mirip dengan penjara, tertutup, dan berpagar tinggi," ujar Her.

Menurut Her, saat ini gedung sekolah hanya dipandang fungsinya saja. Gedung sekolah tidak dipandang lebih dari bangunan untuk mendapatkan pendidikan. Kendati merupakan bagian dari area publik, sekolah juga sangat tertutup. Kegiatan-kegiatan penduduk sekitar, di luar penggunaan sebagai TPS atau lokasi kampanye partai politik yang memang tidak boleh bertempat di gedung sekolah, tidak dapat dilakukan.

Lantas, bagaimana gedung sekolah yang ideal?

"Sekolah untuk SD, SMP, SMA itu tempat di mana warga belajar lingkungan, mendapat contoh yang baik. Mungkin di rumah belum melihat sesuatu yang baik," ujarnya. Her mencontohkan, jika sekolah berhasil menerapkan desain yang memaksimalkan perputaran udara, maka pendingin udara tidak diperlukan.

Dengan begitu, para murid bisa memiliki pikiran terbuka bahwa pendingin udara sifatnya tidak harus digunakan. Selain itu, sekolah juga bisa menjadi laboratorium hidup. Sekolah bisa menerapkan prinsip daur ulang air dari air wudhu, air buangan kloset, serta pengolahan sampah jadi kompos.

Lewat sayembara yang secara resmi dipublikasikan Senin (11/11/2013) ini, tampaknya ada angin segar bagi desain sekolah di Jakarta. Diharapkan, dengan sebuah terobosan desain arsitektur, sekolah yang baru ini mampu menjadi tidak lagi sekadar (penampung) kegiatan belajar mengajar saja, tetapi ada manfaat untuk mendidik generasi muda agar bisa memahami aturan, lingkungan, dan berbagai macam persoalan.

"Saya berusaha mendorong bangunan publik,  sekolah, rumah sakit, terminal, atau bandara disayembarakan supaya bisa menjadi karya arsitektur yang memiliki kualitas terbaik. Sehingga akhirnya mendorong Jakarta punya peradaban yang baik. Jadikan arsitektur menjadi salah satu strategi pembangun kota. Mudah-mudahan kualitas hidup warganya jadi baik, kemudian bisa mendorong wisatawan, roda perekonomian berputar, kesejahteraan tercapai," tutur Her.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.