Seperti Kantong Plastik, Arsitek Bangun Rumah Degradasi

Kompas.com - 26/10/2013, 13:01 WIB
Rumah Dominic Stevens, berbahan lokal dan ramah lingkungan. www.dwell.comRumah Dominic Stevens, berbahan lokal dan ramah lingkungan.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Seorang arsitek dan seniman, Dominic Stevens, terbang ke Cloone, sebuah daerah di County Leitrim, Irlandia, sembari memboyong anak dan istrinya untuk tinggal di rumah biodegradable.

Seperti kantong plastik yang biasa kita temui di supermarket, rumah milik keluarga Stevens pun akan berdegradasi seiring waktu dan bahkan menghilang. Tentu, pembangunan dan proses yang akan dilalui jauh lebih rumit ketimbang kantong plastik. 

 
Semua berawal di akhir tahun 1990-an. Ketika itu, koran lokal Irlandia melaporkan bahwa daerah County Leitrim menawarkan properti dengan harga paling murah di antara daerah lain anggota Uni Eropa. Dominic yang kala itu berusia 30-an, beserta istrinya Mari-Aymone Djeribi memutuskan untuk meninggalkan apartemen mereka di Merrion Square Dublin menuju Cloone. Dengan hanya 12.500 dollar AS (sekitar Rp 137,3 juta), Stevens membeli tanah seluas dua hektar di daerah tersebut.
 
Dengan bekal tanah seluas itu, ia berusaha membangun rumah yang sesuai dengan visinya mengenai keberlanjutan. Dengan bantuan teknologi tinggi seminimal mungkin, ia memaksimalkan penggunaan bahan-bahan lokal. Tujuannya sederhana, jika tidak digunakan selama lebih dari sepuluh tahun, rumah tersebut bisa "menghilang" dan menyatu dengan alam di sekitarnya.
 
Keluarga Stevens membangun dua boks berangka kayu sebagai rumah mereka dan menambahkan kontainer pengiriman tidak jauh dari rumahnya sebagai kantor. Keluarga ini menghabiskan 75.000 dollar AS (sekitar Rp 824,17 juta) untuk membeli tanah dan membangun rumahnya. "Kami tidak ingin tersandung dengan cicilan rumah berharga mahal," ujar Stevens. 
 
"Orang-orang Irlandia saat ini cenderung membeli rumah-rumah mahal yang mengharuskan suami-isteri bekerja keras membayar pinjaman. Belum lagi biaya untuk mengurus anak. Dengan meningkatnya harga hunian, kontan pemerintah meningkatkan GNP karena ada penggandaan jumlah orang yang bekerja. Jadi, memiliki rumah menjadi faktor pendorong peningkatan ekonomi, juga merusak hidup orang-orang. Terserah dari sudut pandang apa Anda melihatnya. Ini adalah efek berantai yang membuat orang bekerja keras dan enggan banyak berpikir," ujarnya. 
 
Rumah yang akan mengalami degradasi seiring waktu tersebut awalnya hanya sebuah tenda. Keluarga ini menginap di tenda mungil tersebut ketika membangun rangka kayu. Stevens bahkan meminta bantuan (dan membayar) mahasiswanya di University College Dublin untuk membantunya membangun rumah. Selain mahasiswanya, penduduk sekitar juga banyak membantu. Mereka meminjamkan berbagai alat berat, bahkan bersedia membantu pembuatannya. 
 
Kedua boks yang dibangun oleh Stevens, mahasiswanya, serta penduduk sekitar, merupakan ruang utama. Kedua boks tersebut digunakan sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan dan tidur. Tampilannya sederhana, namun menarik. Mereka menggunakan kayu "mentah", papan panel, dan kaca untuk membentuk rumah tersebut. Hingga saat ini, keluarga tersebut dikelilingi oleh arsitektur minimal. Ruang keluarga yang bisa juga digunakan anak-anak untuk bermain dibanjiri oleh cahaya matahari.
 
 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X